Latest Posts

Imam Ath-Thurthusyi dalam Al-Hawadits wal-Bida' berkata, "Kata bid'ah berasal dari kata al-ikhtira' yaitu sesuatu yang baru diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya" .[Lisan Al- 'Arab(IX/351), Maqayis Al-Lughah (1/209), (hnAl-QamusAl-Muhith: 906.] Di antara yang masuk dalam katagori ini adalah firman Allah,

"Allah adalah Pencipta langit dan bumi." (QS. Al-Baqarah: 117).

(Artinya, bahwa Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, pent.).

Demikian pula firman-Nya,

"Katakanlah: 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul." (QS. Al-Ahqai: 9).

Artinya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bukanlah seorang rasul yang pertama kepada penduduk bumi ini.

Dan masuk dalam katagori bid'ah ini adalah, "sesuatu yang diperbuat oleh hati, dikatakan lisan, dan dilakukan anggota badan. "[Lihat: halaman 40 terbitan Dar Ibrnil Jauzi. Damam, dengan tahqiq saya.]

Arti bid'ah seperti ini dinukil oleh Imam Abu Syamah Al-Maqdisi dalam kitabnya Al-Ba 'its 'Ala InkarAl-Bida' wa Al-Hawculits (hal 20) ialah sebagai berikut, "Kata bid'ah jika disebutkan secara mutlak, maka maksudnya adalah perkara baru yang tidak baik yang ada dalam agama. Dan yang seperti itu adalah kata mubtadi' (ahlu bid'ah). Dimana kata ini tidak digunakan kecuali dalam celaan. Tetapi dari sisi akar kata, maka bid'ah dapat dikatakan untuk sesuatu yang terpuji dan yang tercela. Sebab yang dimaksud dengan bid'ah secara bahasa adalah, sesuatu yang baru dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Karena itu, dikatakan kepada sesuatu yang sangat indah, "Dia itu bid'ah".

Al-Jauhari dalam Shihah Al-Lughah berkata, "Badi', mubtada' dan bid'ah, adalah hal baru dalam agama setelah agama dinyatakan sempurna."

Dengan demikian maka, defininsi bid'ah adalah, "Cara baru dalam agama yang dibuat untuk menyerupai syari'at dengan maksud untuk melebihkan dalam beribadah kepada Allah."[Lihat, Mi'yar Al-Mu'rib (1/352 ilan 358) oleh wansyarisyi.]

Imam Syathibi dalam Al-I'lisham (1/37) juga memilih definisi bid'ah seperti itu. Dan definisi tersebut adalah yang paling komprehenshif di antara beberapa definisi bid'ah.

Kemudian Imam Asy-Syatibi menjelaskan definisi bid'ah tersebut dengan panjang lebar yang intinya sebagai berikut,

"Ungkapan 'cara baru dalam agama' itu maksudnya, bahwa cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama. Tetapi sesungguhnya cara baru yang dibuat itu tidak ada dasar pedomannya dalam syari'at. Sebab dalam agama terdapat berbagai cara, di antaranya ada cara yang berdasarkan pedoman asal dalam syari'at, tetapi juga ada cara yang tidak mempunyai pedoman asal dalam syari'at. Maka, cara dalam agama yang termasuk dalam katagori bid'ah adalah apabila cara itu baru dan tidak ada dasarnya dalam syari'at.

Artinya, bid'ah adalah cara baru yang dibuat tanpa ada contoh dari syari'at.[Lihat, Mu'jamAl-ManahiAl-Lafdziyyahy. 304.] Sebab bid'ah adalah sesuatu yang ke luar dari apa yang telah ditetapkan dalam syari'ah.

Ungkapan "menyerupai syari'at" sebagai penegasan bahwa sesuatu yang diada- adakan dalam agama itu pada hakikatnya tidak ada dalam syari' at, bahkan bertentangan dengan syari'at dari beberapa sisi, seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang tidak ada dalam syari' at. Juga mengharuskan ibadah-ibadah tertentu yang dalam syari'at tidak ada ketentuannya.

Ungkapan "untuk melebihkan dalam beribadah kepada Allah", adalah pelengkap makna bid'ah. Sebab demikian itulah tujuan para pelaku bid'ah. Yaitu menganjurkan untuk tekun beribadah, karena manusia diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya seperti disebutkan dalam firman-Nya, " Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. "[QS. Adz-Dzari'at: 56.] Seakan-akan orang yang membuat bid'ah melihat bahwa maksud dalam membuat bid'ah adalah untuk ibadah sebagaimana dimaksudkan ayat tersebut, dan dia merasa bahwa apa yang telah ditetapkan dalam syari'at tentang undang-undang dan hukum-hukum belum mencukupi sehingga dia melebih-lebihkan dan menambahkan.

Saya berkata, "Juga terdapat definisi lain tentang bid'ah, yaitu: Sesuatu yang diadakan dan menyalahi kebenaran yang datang dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik tentang ilmu, amal atau sifat, disebabkan kerancuan pemahaman atau menganggap baik kepada sesuatu dan dijadikannya sebagai agama yang kokoh dan jalan yang lurus. "[Yaitu pendapat Asy-Syaumani yang dinukil oleh Al-'Adawi dalam Ushutfil Bida': 26.]

Dan Al-Fairuz Abadi dalam BashairDzawi Al-Tamyiz (II/ 231) berkata, "Bid'ah adalah hal baru dalam agama setelah agama disempurnakan." Dan dikatakan, "Sesuatu yang diadakan setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sal-lam wafat baik berupa ucapan maupun perbuatan." Bentuk jama'nya adalah bida'. Dan dikatakan pula, bahwa bid'ah adalah bentuk ucapan atau perbuatan, yang pengucap atau pelakunya tidak mengikuti pemilik syari'at dan huj-jah-hujjahnya yang berlaku serta pokok-pokoknya yang telah dikodifikasikan dengan teratur. Dan hal yang sama juga disebutkan Al-Abadi dalam Al-Qa-mus (halaman 906).

Dengan ketetapan di atas maka Anda mengetahui kesalahan orang yang mengatakan, bahwa bid'ah adalah "suatu perbuatan yang belum ada pada tiga abad pertama dan tidak terdapat dasarnya dalam empat sumber hukum [Iqamah Al-Hujjah "AlaAnnaAl-lkisarMinana'AbudiLaysabiBid'ah: 12, AI-Laknawi.] (Al Qur'an, Hadits, Ijma' danQiyas)."

Barangsiapa yang Mengerjakan Amalan yang tidak ada Keterangan dari Kami maka Dia Tertolak.

Demikianlah ketetapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap segala bentuk bid'ah.[Lihat. Ittiba' As-Sunan wa Ijtinab Al-Bida': 33-34.]

Syaikh Al-AlbanidalamIrwa' Al-Ghalil(nomor 88) berkata, "Hadits ini adalah kaidah besar dari beberapa kaidah dalam Islam dan merupakan penjelasan singkat tetapi maknanya padat yang disampaikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebab hadits ini sebagai dalil yang sangat jelas tentang tertolak dan batalnya segala bentuk bid'ah dan hal-hal yang baru. "[Lihat. Syarah Shahih Muslim: Xfl/16.]

Imam Syaukani dalam Nailul Authar (H/69-70) berkata dalam menjelaskan hadits tersebut, "Yang dimaksud dengan kata "amr" dalam redaksi: "laisa 'alaihiamrwia", adalah bentuk tunggal dari kata "Al-umur".[Sebagai peniadaan pendapat yang mengatakan bahwa kata "amr" di sini merupakan bentuk tunggal " Awa-mir"] Artinya, sesuatu yang tidak dilaksanakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, sedang kata "radd" adalah mashdar dengan arti isim maf'ul: "mardud", artinya, "tertolak".

Hadits ini adalah salah satu kaidah dalam agama. Sebab di dalamnya masuk beberapa hukum yang tidak terhitung. Dan betapa jelasnya hadits ini sebagai dalil tentang batalnya pendapat ulama fiqh yang membagi bid'ah kepada lima bentuk bid'ah sesuai jumlah hukum syar'i, seperti bid'ah wajib, bid'ah sunnah, bid'ah haram, dan seterusnya. Maka hendaknya demikian itu menjadi perhatian Anda.

Dalam Fathul-Bari disebutkan, "Hadits ini merupakan pokok dan kaidah dasar dalam Islam. Sebab arti hadits tersebut adalah, "Barangsiapa melakukan hal baru dalam agama yang tidak berdasarkan dalil-dalil agama maka tidak boleh diperhatikan."

Imam Nawawi berkata, "Hadits ini merupakan dalil yang harus diperhatikan dan digunakan untuk membatalkan berbagai kemunkaran dan hendaklah menyebarluaskan hadits ini dalam penggunaan dalil."[Syarah Muslim: XII/16]

Ath-Thukhi [Lihat Ushutfil Bida': 105, Al-Adawi menyebutkan dengan nama At-Thufi, barangkali ini yang benar] berkata, "Hadits ini layak untuk disebut sebagai separuh dari berbagai dalil syar'i. Sebab dalil ini terdiri dari dua premis. Karena yang dituntut dalam dalil, yaitu menetapkan hukum atau menafikannya. Dan hadits ini adalah premis besar yang menetapkan setiap hukum syar' i dan menafikannya. Sebab yang tersurat dalam dalil ini adalah premis universal. Seperti dikatakan tentang wudhu dengan air najis, "Ini bukan dari perkara syar'i, dan setiap amal yang demikian tertolak, maka amal itu tertolak". Dimana premis kedua menjadi kuat dengan dalil ini, sedangkan perselisihan adalah dalam premis pertama.

Adapun yang tersirat dalam hadits itu adalah, bahwa orang yang mengerjakan amal yang ada perintah syari' maka amal itu benar. Jika disepakati adanya hadits yang menjadi premis pertama dalam menetapkan setiap hukum syar' i dan menafikannya niscaya kedua hadits independen dengan semua dalil syar'i. Tetapi permis yang kedua tidak ada, maka hadits ini merupakan separuh dari dalil-dalil syar' i."

Syaikh Ali Mahfudz dalam Al-Ibda 'fi MadharAl-Ibtida' (hal 45) berkata, Kata "sesuatu" dari redaksi, "Sesuatu yang tidak termasuk dari urusan kami", adalah mencakup ucapan, perbuatan dan keyakinan. Sebab "sesuatu" disini dalam bentuk umum. Jadi segala sesuatu yang tidak ada pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan juga tidak di dukung kaidah universal dan dalil umum [Tentang dalil umum ini akan dijelaskan secara terperinci pada bab Tuntunan Salaf] maka harus dinafikan, yaitu sesuatu yang disebut "bid'ah."

Sebagaimana redaksi "Siapa yang mengerjakan amal" juga menunjukkan arti umum. Sebab kata "amal" disebutkan dengan bentuk nakirah (in-definitif), dan tidak disebutkan: "Siapa yang mengerjakan demikian atau demikian". Maka hadits ini menjadi pedoman besar yang dijadikan pegangan oleh para ulama dan dipopulerkannya dalam menafikan setiap amal yang tidak sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.[Isyraqah Asy-Syur'ah: 82]

Dan telah kami jelaskan sebelumnya bahwa bid'ah tidak berlaku dalam lima hukum syar'i, tetapi kami keluarkan tiga dari lima itu sehingga yang tersisa adalah makruh dan haram. Dengan demikian, maka bid'ah terbagi menjadi dua bagian: bid'ah haram dan bid'ah makruh. Jadi bid'ah itu masuk dalam katagori hal-hal yang dilarang dan tidak keluar dari makruh atau haram. Ini yang pertama.

Kedua, jika kita cermati makna bid' ah maka kita dapatkan bahwa bid'ah beragam tingkatannya. Di antaranya ada bid'ah yang sampai pada tingkat kekafiran yang nyata, seperti bid'ah jahiliyah yang diperingatkan dalam Al-Qur'an. Demikian pula bid'ah orang-orang munafik yang menjadikan agama sebagai tameng untuk melindungi nyawa dan harta.[Sayangnya sikap orang-orang munafik seperti ini dilakukan oleh sebagian manusia pada masa kita sekarang. La Haula u ala Quwwata lila billah] Juga ada bentuk-bentuk bid'ah lain yang tidak diragukan lagi sebagai bentuk kekafiran yang nyata.

Dan di antara bid'ah, ada yang dalam tingkatan maksiat tetapi tidak sampai kafir, atau diperselisihkan tentang sampai dan tidaknya kepada kekafiran. Seperti bid'ah yang dilakukan kaum Khawarij, Qadariyah, Murji'ah, dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kelompok-kelompok yang sesat.

Juga terdapat bid'ah yang masuk dalam katagori maksiat, dan para ulama sepakat bahwa bid'ah tersebut tidak sampai jatuh dalam bentuk kekafiran. Seperti bid'ah shalat sunnah semalam suntuk, puasa dengan berdiri di terik matahari, dan mengebiri untuk memutuskan nafsu seks.

Di antara bentuk bid'ah. ada bid'ah yang makruh,[Bahkan bid'ah haram karena masuk dalam keumuman sabda Nabi Shallallahu Alaihi wti Sdllain "Setiap bid 'ah adalah sesat dan setiap yang sesat ilalam neraka." Dan akan disebutkan pada bab berikutnya tentang pernyataan Imam Asy-Syathtbi bahwa bila beliau menyatakan makruh, maka yang dimaksudkan ada lah haram. Dengan demikian maka tidak ada masalah] seperti membaca Al Qur'an dengan berjama'ah secara koor.[Lihat komentar saya dalam syarah kitab Al-Hawadits wal Bida': 161] berkumpul untuk berdo'a pada sore hari' Arafah, bersama-sama menyebut nama para penguasa dalam kliut-bah Jum'at. demikian itu seperti yang dituturkan Abdussalam yang ber-madzhabSyafi'i, dan lain-lain.

Dengan demikian, maka kita mengetahui bahwa bentuk-bentuk bid'ah tidak dalam satu tingkatan. Tetapi juga tidak benar bila mengatakan bahwa bid'ah hanya dalam satu hukum, seperti hanya makruh atau haram saja.

Ketiga, bahwa maksiat ada yang kecil dan juga ada yang besar. Dan hal itu dapat diketahui apakah maksiatnya dalam hal-hal yang primer, sekunder atau tersier. Jika suatu maksiat berkaitan dalam masalah primer maka ia termasuk ke dalam dosa besar. Dan jika dalam masalah tersier, maka ia pun ke dalam dosa yang paling ringan. Sedang maksiat yang termasuk dalam masalah sekunder, maka dosanya berada di tengah antara dua tingkatan di atas.

Sesungguhnya setiap tingkatan terdapat pelengkapnya. Tentu, tidak mungkin bila yang melengkapi berada dalam satu tingkatan dengan yang dilengkapi. Sebab yang melengkapi dengan yang dilengkapi bagaikan sarana dengan tujuan, dimana sarana tidak akan sampai kepada tingkatan tujuan. Dengan demikian, tampak jelas tentang adanya perbedaan tingkatan dalam maksiat dan pelanggaran.

Kemudian jika direnungkan, dalam hal-hal yang primer pun terdapat tingkatan-tingkatannya. Sebab tingkatan nyawa tidak sebagaimana tingkatan agama. Orang kafir boleh dibunuh ketika berperang. Dan untuk menjaga agama diperbolehkan mengorbankan jiwa sampai meninggal dalam memerangi orang-orang kafir dan orang-orang yang merusak agama.

Lalu tingkatan akal dan harta juga tidak sama dengan tingkatan nyawa. Dimana Islam membolehkan qishash akibat adanya pembunuhan. Demikian juga yang lainnya.

Sebab jika kita renungkan tingkatan nyawa, maka di sana kita dapatkan berbagai tingkatan. Dimana memotong salah satu anggota tubuh tidak seperti menyembelih, dan melukai tidak sebagaimana memotong anggota badan. Dan penjelasan semua itu ada dalam kitab Ushul Fiqh.

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa bid'ah itu adalah bentuk kemaksiatan yang memiliki tingkatan-tingkatan seperti halnya tingkatan-tingkatan dalam maksiat. Artinya, di antara bid'ah ada yang masuk dalam hal-hal primer, ada yang masuk dalam masalah sekunder dan juga ada yang masuk dalam tingkatan tersier. Dan bid'ah yang masuk dalam tingkatan primer ada yang dalam masalah agama, jiwa, keturunan, akal, dan harta.[Al-I'tisham. II/36-39]

Imam Syathibi berkata, "Jika telah nyata bahwa bentuk-bentuk bid'ah itu tidak dalam satu tingkatan dalam celaan dan larangan, tetapi ada yang makruh [Bandingkan hal ini dengan catatan kaki No. 2 hlm. 11] dan juga ada yang haram, maka sesungguhnya kesesatan dalam bid'ah mencakup berbagai bentuk kesesatan sebagaimana ditegaskan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Setiap bid'ah adalah sesat" .[Al I'tisham: II/49]

Syaikli Al-Albani dalam kitabnya Hajjah An-Nabi (hal. 103) berkata, "Hendaknya diketahui bahwa bahaya bid'ah itu tidak pada satu tingkatan, tetapi dalam beberapa tingkatan. Sebagiannya ada yang sampai kepada kesyirikan dan kekafiran yang nyata, dan sebagian yang lain di bawah itu, tetapi wajib kita ketahui bahwa bid'ah terkecil yang dilakukan seseorang dalam agama adalah haram dan tidak seperti anggapan sebagian orang, bahwa bid'ah hanya sampai pada tingkatan makruh saja.

Oleh karena itu, bid'ah adalah sesuatu yang sangat berbahaya, tetapi sayang hanya sekelompok ulama saja yang mengetahuinya, sedang kebanyakan manusia lalai darinya. Cukup sebagai dalil tentang bahaya bid'ah adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Sesungguhnya Allah menolak taubat setiap pelaku bid'ah hingga dia meninggalkan bid'ahnya. ". (HR. At-Thabrani).[Ad-Dhiya' Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah, dan lain-lain dengan sanad dan dinyatakan hasan oleh Al-Mundziri. Dan lihat Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah No. 1620.]

Kesimpulannya, bahwa setiap amal yang tidak mengikuti Sunnah maka tidak akan mendekatkan pelakunya kepada Allah, bahkan akan semakin menjauhkannya dari Allah. Sebab Allah memerintahkan manusia dan jin untuk beribadah kepada-Nya dengan ketentuan yang telah diperintahkan-Nya dan tidak berdasarkan akal dan hawa nafsu.[Madarij As-Salikin: 1/84]

Bantahan terhadap Syubhat (Salah Paham).

Abdullah Al-Ghumari dalam bukunya yang tidak sesuai dengan namanya, ltqan Ash-Shan'ahfi TahqiqMa'na Al-Bid'ah (hal 22), menyebutkan hadits,

"Barangsiapa yang membuat hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya maka ia tertolak." [Ini adalah satu dari dua riwayat dalam hadits ini]

Lalu dia berkata, "Hadits ini mengkhususkan dan menjelaskan maksud hadits,

"Setiap bid'ah adalah sesat"

Sebagaimana tampak dan jelas. Sebab jika semua bid'ah sesat tanpa pengecualian, niscaya hadits itu mengatakan,



Allah berfirman,

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu. " (QS. Al-Maidah: 3). 

Ayat yang mulia ini menunjukkan tentang kelengkapan dan kesempurnaan syari'at serta kecukupannya dalam segala hal yang dibutuhkan orang-orang dimana mereka diperintahkan Allah untuk mengabdi kepada-Nya seperti ditegaskan dalam firman-Nya,

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. "(QS. Adz-Dzariat: 56). 

Ketika menjelaskan ayat ke-3 dari surat Al Maidah tersebut. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (II/19) berkata, "Ini adalah nikmat yang terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi ua Sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia danjin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram melainkan apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari' atkannya.[Ibnu Jariri dan Ibnu Mundzir meriwayatkan pernyataan Ibnu Abbas tentang ayat ini. Disebutkan, "Allah memberitahukan kepada nabi-Nya dan orang orang mu'min bahwa Dia telah menyempurnakan agama bagi mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan tambahan untuk selama-lamanya." (Lihat: Ad-Durr Al Mantsur: III/17).]

Setiap hal yang disampaikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah benar dan tepat, tanpa ada kebohongan dan kekeliruan sedikit pun di dalamnya. Allah berfirman,"Dan sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil." Artinya, benar dalam berita serta adil dalam perintah dan larangan-Nya. Maka ketika Allah menyempurnakan agama bagi umat Islam, berarti telah sempurna pula nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Karena itu, tidak dibenarkan jika seseorang membuat ketentuan baru dalam syari'at. Sebab menambahkan syari'at berarti menyalahkan Allah dan memberi pengertian bahwa syari'at masih kurang dan belum lengkap. Dan tindakan tesebut bertolak belakang dengan apa yang telah dijelaskan dalam kitabullah (Al-Qur'an). Maka tidak terbayangkan bila manusia menambahkan syari'at Allah dan dianggap tidak tercela.[Al-Bid'ah wal Mashalih Al-Mursalah (hlm 111) oleh Taufiq Al-Wa'i]

Pemahaman ini adalah pemahaman yang diyakini oleh semua ulama Islam, dan segala puji bagi Allah, tetapi sayang, kebanyakan manusia mengingkarinya . Firman-Nya, "Dan mereka mengingkari karena kezhalimandan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini kebenarannya." (An-Naml: 115)

Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, ia berkata, "Orang-orang Yahudi berkata kepada Umar Radhiyallahu Anhu, 'Sesungguhnya kamu membaca ayat dalam kitabmu. Seandainya ayat itu turun kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya.' Umar Radhiyallahu Anhu berkata,' Apakah itu?' Mereka menjawab, ' Ayat' Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu.' Umar berkata, 'Demi Allah, sungguh aku mengerti hari diturunkannya ayat tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan waktu turunnya. Ayat itu turun kepadanya pada sore hari 'Arafah, hari Jum'at'. "[HR. Bukhari (45) dan Muslim (3017)]

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kepada suatu umat sebelumku, melainkan dia wajib menunjuki umatnya kepada kebaikan yang dia ketahui dan memperingatkan mereka dari keburukan yang dia ketahui. ". (HR. Muslim dari Ibnu Umar).

Imam Thabrani dalam Mu 'jam Al-Kabir (1647) menyebutkan riwayat dari Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggalkan kami dan tidak ada seekor burung yang mengepakkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau menyebutkan kepada kami ilmu tentangnya." Ia berkata, "Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, 'Tidak tersisa sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepadamu'. [Sanadnya shahih. Lihai takhrijnya dalam Al-Iiman (21399). Ar-Risalalr 93, oleh Imam Asy-Syafi'i tah-qiq Syaikh Ahmad Syakir, dan Miftah Al-Jannah: 32 oleh As-Suyuthi Ta 'liq Badar Al-Badar.]

Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa setiap sesuatu yang mendekatkan kita kepada surga, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjelaskannya kepada kita, dan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari neraka, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga telah menjelaskannya kepada kita. Oleh karena itu, suatu bid'ah, apa pun bentuknya, adalah penyanggahan terhadap syari'at dan kelancangan yang sangat buruk. Sebab dengan bid'ahnya itu, berarti pelakunya menyatakan bahwa syari'at tidak cukup dan tidak lengkap sehingga membutuhkan hal yang baru dan penambahan darinya.

Islam adalah dien yang sempurna. Itulah yang dipahami sepenuhnya oleh para shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebagaimana disebut kan dalam riwayat yang shahih, bahwa Ibnu Mas'ud berkata, "Ikutilah sun-nah, dan janganlah membuat bid'ah. Sebab sesungguhnya kamu telah dicukupkan, dan setiap bid'ah adalah sesat. "[HR. Abu Khaitsamah dalam "Al-Ilmu" (nomor 54) dari jalan Ibrahim An-Nakha'i ia berkata, telah berkala Abdullah. Dan sarad ini shahih Sebab sebagaimana dikenal dari Ibrahim dalam bentuk ini bahwa sanad tersebut diriwayatkan lebih dan satu orang dari Ibnu Mas'ud.]

Kesimpulannya, bahwa orang-orang yang menyatakan baik kepada hal-hal yang baru (bid'ah) sama dengan menyatakan bahwa syari'at tidak sempurna bagi mereka, sehingga firman Allah "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu" tidak dihiraukan lagi oleh mereka."[Al-rtishaminil.]

Dengan demikian maka Ahlu bid'ah mengatakan, baik secara langsung atau tidak langsung, bahwa syari'at tidak lengkap dan masih tersisa hal-hal yang harus dibenarkan. Sebab jika mereka meyakini kelengkapan dan kesempurnaan syari'at dari semua sisi, niscaya mereka tidak akan membuat hal-hal baru (bid'ah) dan tidak mengoreksi syari'at. Dan orang yang mengatakan, bahwa syari'at belum sempurna adalah sesat dari jalan yang lurus.

Ibnul Majisyun berkata, "Saya mendengar Imam Malik berkata, 'Barangsiapa yang membuat bid'ah dalam Islam dan dianggapnya sebagai kebaikan maka sesungguhnya dia menganggap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu." Maka, apa yang pada hari itu bukan agama, pada hari ini pun bukan agama juga. "[Al-I'tisham 1/49.]

"Sesungguhnya cara melaksanakan agama dan ibadah yang benar adalah apa yang telah dijelaskan oleh Pencipta manusia melalui lisan Rasul-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka, siapa yang menambahi atau menguranginya, sesungguhnya dia telah menyalahi Pencipta Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui karena dia meracik obat sendiri, maka boleh jadi sesuatu yang dianggap obat itu ternyata sebagai penyakit dan yang dianggap ibadah ternyata sebagai maksiat, sedang dia tidak merasa. Sebab agama ini telah benar-benar lengkap dan sempurna. Maka siapa yang menambahkan sesuatu ke dalamnya, sesungguhnya dia telah menyangka bahwa agama ini masih kurang dan dia menyempurnakannya dengan menganggap baik sesuatu itu menurut akalnya yang rusak dan khayalannya yang suram".[Mifiahul JannahLamllahaMallah hlm. 58oleh Al-Ma'shumidengan tahqiq saya]

Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya Al Qaul Al-Mufid (hal 38) berkata, ketika membantah sebagian orang yang melakukan bid'ah dalam sesuatu perkara menurut pendapat mereka sendiri, "Jika Allah telah menyempurnakan agama-Nya sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggal, lalu untuk apa pendapat yang dibuat orang-orang setelah Allah menyempurnakan agama-Nya? Jika pendapat itu merupakan bagian dari agama menurut keyakinan mereka maka berarti bahwa agama tidak sempurna melainkan dengan pendapat mereka. Dan itu berarti penolakan terhadap Al-Qur'an. Dan jika pendapatnya tidak termasuk bagian agama, lalu apa manfaatnya dia menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak termasuk dalam agama?"

Ini adalah hujjah yang sangat kuat dan dalil yang agung, yang tidak mungkin bagi para penggagas bid'ah mampu untuk membantah dengan bantahan apa pun. Maka jadilah ayat yang mulia tersebut sebagai yang pertama-tama menampar wajah orang-orang yang menggagas bid'ah, menghinakan mereka dan mementahkan berbagai hujjah mereka."

Sebab "setiap pendapat yang baru setelah turunnya ayat ini adalah kelebihan, tambahan dan bid'ah".[Siyar A'lm An-Nabaia (XVIII/509).]
Bersama Ustadz Ali Nur ,Lc
01. Muqoddimah
02. Syariat Islam Sudah Sempurna (bag. 1)
03. Syariat Islam Sudah Sempurna (bag. 2)
04. Pengertian Bid’ah (bag. 1)
05. Pengertian Bid’ah (bag. 2)
06. Man ‘Amila ‘Amalan…..(bag. 1)
07. Man ‘Amila ‘Amalan…..(bag. 2)
08. Bid’ah Mukaffaroh
09. Syubhat
10. Wajib Mengenal Bid’ah (bag. 1)
11. Wajib Mengenal Bid’ah (bag. 2)
12. Penyebab Munculnya Bid’ah (bag. 1)
13. Penyebab Munculnya Bid’ah (bag. 2)
14. Penyebab Munculnya Bid’ah (bag. 3)
15. MembedakanBid’ah dan Sunnah (bag. 1)
16. MembedakanBid’ah dan Sunnah (bag. 2)
17. Sederhana Dalam Sunnah Lebih Baik Daripada Berlebihan Tapi Bid’ah (bag. 1)
18. Sederhana Dalam Sunnah Lebih Baik Daripada Berlebihan Tapi Bid’ah (bag. 2)
19. Antara Bid’ah Dan Niat Baik (bag. 1)
20. Antara Bid’ah Dan Niat Baik (bag. 2)
21. Asal Ibadah Adalah Terlarang (bag. 1)
22. Asal Ibadah Adalah Terlarang (bag. 2)
23. Asal Ibadah Adalah Terlarang (bag. 3)
24. Bagaimana Mengetahui Bid’ah (bag. 1)
25. Bagaimana Mengetahui Bid’ah (bag. 3)
26. Bagaimana Mengetahui Bid’ah (bag. 4)
27. Bagaimana Mengetahui Bid’ah (bag. 5)
28. Bagaimana Mengetahui Bid’ah (bag. 6)
29. Bagaimana Mengetahui Bid’ah (bag. 7)
30. Bagaimana Mengetahui Bid’ah (bag. 8)
31. Seluruh Bid’ah Itu Sesat Walaupun Orang Menganggap Itu Baik(bag. 1)
32. Seluruh Bid’ah Itu Sesar Walaupun Orang Menganggap Itu Baik (bag. 2)
33. Seluruh Bid’ah Itu Sesar Walaupun Orang Menganggap Itu Baik (bag. 2)
34. Setiap Kesesatan Tempatnya Di Neraka
35. Hukum-Hukum Meninggalkan Bid’ah
36. Kesempurnaan Dalam Mengikuti Sunnah37. Pembagian Sunnah Tarkiyah
38. Hukum Meninggalkan Perbuatan Karena atau Tidak Karena Syar’i
39. Review Hukum Meninggalkan Perbuatan Karena atau Tidak Karena Syar’i
40. Syubhat dan Bantahan Penyimpangan Hukum At Tarkh
41. Kebaikan Itu Adalah Sesuatu Yang Di Anggap Baik Oleh Syari’at A
42. Kebaikan Itu Adalah Sesuatu Yang Di Anggap Baik Oleh Syari’at B
43. Kebaikan Itu Adalah Sesuatu Yang Di Anggap Baik Oleh Syari’at C
44. Kebaikan Itu Adalah Sesuatu Yang Di Anggap Baik Oleh Syari’at D
45. Petunjuk Salaf Dalam Mengamalkan Nash Nash Umum A
46. Petunjuk Salaf Dalam Mengamalkan Nash Nash Umum B
47. Petunjuk Salaf Dalam Mengamalkan Nash Nash Umum C
48. Bid’ah Hakiki Dan Bid’ah Idhofi A
49. Bid’ah Hakiki Dan Bid’ah Ihdofi B
50. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Hadits Yang Tidak Shahih A
51. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Hadits Yang Tidak Shahih B
52. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Hadits Yang Tidak Shahih C
53. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Hadits Yang Tidak Shahih D
54. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Hadits Yang Tidak Shahih E
55. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Hadits Yang Tidak Shahih F
56. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Taklid A
57. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Taklid B
58. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Taklid C
59. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Taklid D
60. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Taklid E
61. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Qiyas A
62. Bid’ah dan Hubungannya Dengan Qiyas B
63. Khilafiyah Dalam Masalah Bid’ah A
64. Khilafiyah Dalam Masalah Bid’ah B
65. Khilafiyah Dalam Masalah Bid’ah C
66. Rangkuman Pembahasan Pasal 1-12 Bab II
67. Perbedaan Seorang Mujtahid dengan Ahli Bid’ah
68. Perbedaan Antara ‘Ibtida dan Mujtahid A
69. Perbedaan Antara ‘Ibtida dan Mujtahid B
70. Antara Adat dan Ibadah A
71. Antara Adat dan Ibadah B
72. Antara Adat dan Ibadah C
73. Antara Bid’ah dan Larangan A
74. Antara Bid’ah dan Larangan B
75. Antara Bid’ah dan Larangan C
76. Antara Bid’ah dan Larangan D
77. Antara Bid’ah dan Mashlahah Mursalah A
78. Antara Bid’ah dan Mashlahah Mursalah B
79. Antara Bid’ah dan Mashlahah Mursalah C
80. Antara Bid’ah dan Mashlahah Mursalah D
81. Antara Bid’ah dan Mashlahah Mursalah E
82. Antara Bid’ah dan Mashlahah Mursalah F
83. Antara Bid’ah dan Mashlahah Mursalah G
84. Antara Sarana dan Tujuan
85. Antara Kulit dan Inti A
86. Antara Kulit dan Inti B
87. Antara Kulit dan Inti C
88. Antara Kulit dan Inti D
89. Antara Kulit dan Inti E
90. Antara Kulit dan Inti F
91. Antara Kulit dan Inti G
92. Antara Kulit dan Inti H
93. Antara Kulit dan Inti I
94. Antara Mayoritas dan Minoritas A
95. Antara Mayoritas dan Minoritas B
97. Bid’ah Dapat Membinasahkan Sunnah
98. Jalur-jalur Para Pengikut Bid’ah
99. Menjauhi Ahli Bid’ah A
100. Menjauhi Ahli Bid’ah B
101. Menjauhi Ahli Bid’ah C
102. Menjauhi Ahli Bid’ah D
103. Bantahan Terhadap Ahli Bid’ah
104. Jalan Keluar Dari Bid’ah KAJIAN TAMAT…..SELESAI…..


Berikut ini adalah pembahasan yang detail dan panjang lebar tentang bid’ah yang disampaikan oleh Ust. Badrussalam (hafizhahullah)
Pembahasan:
->Kaidah Umum Bahwa Islam Telah Sempurna dan Makna Bid’ah
Tanya Jawab:
  1. Bagaimana menjawab syubhat maulid, bahwa katanya perayaan maulid berkaitan dengan puasa hari senin ?, dikatakan juga bahwa tidak adanya larangan dalam al-Quran dan as-Sunnah perayaan maulid, dan dikatakan juga bahwa Salahuddin al-Ayyubi lah yang membuat maulid Nabi. Bagaimanakah menjawab syubhat ini ?
  2. Ada yang mengatakan bahwa bolehnya perayaan maulid Nabi tercantum dalam kitab Iqtidho Sirotol Mustaqim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan dalam kitab manaqib Imam asy-Syafi’i karya Imam Baihaqi ?
  3. Bagaimana dzikir shubuh yang sesuai sunnah ?
  4. Tentang adanya perayaan maulid Nabi yang di dalamnya ada pertunjukan barongsai dan debus ?
  5. Bagaimana tentang pembagian kitab dalam An-Nawawi bahwa bid’ah dibagi menjadi lima, yaitu bid’ah wajib, sunnah, makruh, mubah dan halal ?
  6. Apakah yang dimaksud dengan bid’ah aqidah ?
  7. Mengapa pelaku atau pendakwah bid’ah adalah justru orang-orang yang pintar dalam masalah agama bahkan sekolah di timur tengah ?
  8. Tentang sejarah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengadakan maulid Nabi jika dikatakan memang beliau-lah yang memulai mengadakannya? Periode Tabi’ut Tabi’in kapan ?
  9. Apakah arti muamalah secara bahasa atau istilah? karena orang yang melakukan kebid’ahan mengatakan bahwa maulid dan tahlilan itu adalah muamalah.
  10. Ada yang mengatakan bahwa ada bid’ah hasanah, karena adanya pengumpulan al-Quran dalam mushaf ?
  11. Bagaimana dengan pendapat bahwa kita harus mengikuti salah satu ulama saja, agar dia-lah yang bertanggung jawab ?
  12. Tadi dikatakan bahwa “Dasar dalam beribadah adalah haram kecuali ada dalilnya”. Apakah ada dalil tentang kaidah ini dalam al-Quran atau hadits ?
  13. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud kata “kullu” dalam hadits kullu bid’atin dholalah” adalah “sebagian” bukan “setiap” ?
——————
Pembahasan:
->Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak sesuai dengan urusan kami, maka ia tertolak.
->Kewajiban mengenal bid’ah dan waspada terhadapnya.
Tanya Jawab:
  1. Bagaimana tentang seorang muslimah yang kita nasehati tetapi justru dia meremehkan nasehat tersebut ?
  2. Apakah patokan cinta kepada Allah dan Rasul itu ?
  3. Bagaimana hukum sujud dengan berdoa setelah salam ketika sholat ?
  4. Bagaimana menyikapi organisasi-organisasi yang ada NU, Muhammadiyah ?
  5. Bagaimanakah batasan-batasan tradisi itu dibolehkan karena ada yang berhujjah bahwa bid’ah yang dilakukan adalah hanya tradisi bukan ibadah ?
  6. Bagaimanakah jika telah terlanjur bernadzar akan berziarah ?
  7. Apakah ada dalil pembagian bahwa bid’ah dibagi menjadi ”bid’ah secara bahasa” dan ”bid’ah secara istilah” ?
  8. Bagaimanakah dizkir dan berdoa ba’da sholat yang sesuai dengan sunnah ?
  9. Nasehat tentang walimah yang syar’i ?
10. Apakah bid’ah hanya dalam ibadah mahdhoh dan tidak dalam ibadah ghoiru mahdhoh?
———————————-
Pembahasan:
->Sebab-sebab terjadinya bid’ah.
Tanya jawab:
  1. Bagaimana dengan bid’ah hasanah ? Bagaimana mengirim al-fatihah kepada mayyit ?
  2. Tentang pembolehan perayaan maulid oleh da’i ikhwani, dengan dalih bahwa itu adalah hikmah dalam berdakwah.
  3. Bagaimana sikap kita terhadap orang yang melakukan maulid ?
  4. Apakah “kullu dholalatin finnar” termasuk dalam hadits atau hanya tambahan ?
  5. Bagaimanakan meluruskan pemahaman istilah ”sunnah” kepada masyarakat ?
  6. Ada yang mengatakan bahwa Nabi kita hanya menjelaskan pokok-pokok agama, sedangkan cabang-cabang terserah kita ???
  7. Bagaimana hukum mencicil rumah dengan pinjaman yang ada bunganya dengan alasan darurot?
  8. Apakah amalan bid’ah bisa menggugurkan amalan yang lain ?
  9. Bagaimana definisi sunnah ?
10. Seharusnya ahlul bid’ah dan ahlus sunnah tidak usah berdebat karena nanti di akhirat juga akan ketahuan siapa yang benar ??
11. Apakah benar bahwa puasa Nabi Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol ?
————————–
Pembahasan:
->Siapakah yang dapat membedakan bid’ah ?
->Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah
->Bid’ah dan niatan baik
—————————-
Pembahasan:
->Pada asalnya hukum ibadah adalah terlarang
->Kaidah bagaimana jika perbuatan tersebut adalah bid’ah
Tanya Jawab:
  1. Bagaimana menyikapi ikhwah yang kembali mengajak ke firqoh.
  2. Benarkah bahwa bid’ah dibagi menjadi 3 ?
  3. Bagaimana menyikapi adanya perayaan ”Asmaul Husna” di lingkungan rumah kita ?
  4. Bagaimana penjelasan hadits: Laa yukminu ahadukum hatta yuhibba li akhihi maa yuhibbu linafsih ?
  5. Ada anggapan bahwa jika kita meluruskan kesalahan seorang yang berselisih pendapat dengan kita, maka dikatakan bahwa ini adalah rahmat !?
  6. Penjelasan bid’ah yang mucul dari faktor waktu, tempat, dan sifat ?
  7. Bagaimana membelanjakan harta yang diamanahkan oleh orang tua untuk berdakwah kepada orang tua sendiri ?
  8. Bagaimana penjelasan kaidah ”sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” ?
  9. Bagaimana hukum gambar-gambar untuk anak-anak, misalnya untuk peragaan sholat atau pengenalan binatang-binatang ?
10. Bagaimana menyikapi kesyirikan dan kebid’ahan di kampung sedangkan kita sendiri takut syubhat mereka dan terjerumus kepadanya ?
11. Bagaimana membedakan perkara ijtihadiyah dan bid’ah ?
12. Bagaimana hukum sholat dibelakang ahlul bid’ah ?
13. Ada syubhat dari orang-orang harokah bahwa orang-orang salaf suka mengatakan bid’ah….sedikit-sedikit bid’ah, karena hal ini bisa menjadikan objek dakwah lari !?
———————————
Pembahasan:
->Kaidah bagaimana jika perbuatan tersebut adalah bid’ah bag. 2
->Setiap Bid’ah adalah sesat walaupun manusia memandangnya baik
Tanya Jawab
1. Bagaimana dalil berdzikir setelah sholat dengan jumlah tertentu ?
2. Apakah bid’ah jika kita berdzikir ketika berkendara motor ?
(Afwan sesi tanya jawabnya terputus ditengah-tengah)
———————————
Pembahasan:
-> Setiap kesesatan di dalam neraka
-> Hukum-hukum at-Tarku (meninggalkan)
Tanya Jawab :
  1. Bagaimanakah hukumnya membaca ayat kursi disetiap keadaan ?
  2. Bagaimana dengan menyebut Allah dengan “Gusti Allah” ?
  3. Apakah orang-orang khawarij akan menjadi anjingnya api neraka ?
  4. Bagaimana jika mengetahui dalil tetapi kita belum mampu menyampaikannya ?
  5. Bagaimana penjelasan perkataan bahwa bid’ah lebih dicintai iblis daripada maksiat ? lalu bagaimana jika ada orang yang sholat tetapi melakukan bid’ah dibanding dengan orang yang tidak sholat dan tidak melakukan bid’ah ?
  6. Bagaimana jika ada imam yang memberi waktu sejenak untuk doa qunut untuk menghormati yang menganggapnya sunnah ?
  7. Bagaimana dengan urutan-urutan surat dalam al-Quran ?
  8. Bagaimana jika doa-doa ketika dzikir setelah sholat wajib dilakukan di sholat sunnah ?
  9. Bagaimana dengan bersholawat di hari jumat ?
——————————
Pembahasan:
-> Tuntunan Salaf dan Beramal dengan Nash-Nash Umum
Tanya Jawab:
  1. Bagaimana sholawat yang shohih ?
  2. Bagaimanakah membedakan antara ibadah yang dikhususkan untuk Nabi saja dengan ibadah untuk kaum muslimin secara umum ?
  3. Bagaimana menyikapi pembacaan sholawat nariyah di sekolah ?
  4. Apakah membaca terjemah al-Quran dalam memahaminya bisa terjerumus kepada ke bid’ahan ?
  5. Bagaimana jika kita melakukan perbuatan yang kita tidak mengetahui bahwa itu bid’ah ?
  6. Apakah ilmu filsafat itu ? dan apakah ada filsafat islam ?
  7. Ada yang mengatakan bahwa hadits 72 golongan masuk neraka itu hadits yang dhoif, dimanakah kesahan mereka yang mengatakan ini?
  8. Bolehkah tawassul dengan Nabi ?
  9. Apakah talaq berupa sindiran sudah menjadi jatuh talaq 1 ?
10. Apakah dibenarkan adanya pemetaan dakwah diberbagai daerah ?
(dan yang lainnya)
—————————-
Pembahasan
-> Bid’ah Haqiqiyah dan Bid’ah Idhofiyah
-> Hubungan Bid’ah Dengan Hadits Yang Tidak Shahih
Tanya Jawab:
  1. Bagaimana dengan Sholawatan yang biasanya dilakukan ibu-ibu.
  2. Bagaimana jika ada orang yang sholat sebagiannya sesuai dengan sunnah dan sebagiannya tidak sesuai dengan sunnah ? bagaimana pula jika ada orang yang berhujjah dengan kaidah ”Bahwa yang dianggap adalah keumuman lafazh bukan kekhususan sebab”dalam menafsirkan hadits ”man sanna fil islami sunnatan hasanatan….dst” ??
  3. Bagaimana cara pendekatan yang baik kepada tetangga kita yang masih melakukan acara-acara bid’ah ?
  4. Dakwah ahlussunnah atau salafy senantiasa mendakwahkan agar ummat menjauhi syirik dan bid’ah sehingga timbul tuduhan bahwa dakwah salafiyah adalah suka membid’ahkan dan mengkafirkan mayoritas kaum muslimin. Bagaimana ini ustadz ??
  5. Ada yang membuka majelis dengan surat al-fatihah, bagaimana hal ini ?
(dan yang lainnya)
——————————
Pembahasan
->Hubungan Bid’ah Dengan Hadits Yang Tidak Shahih (2)
-> Hubungan Bid’ah dengan Taqlid
Tanya Jawab:
  1. Apakah membaca Doa Khatamul Quran sunnah ?
  2. Bagaimanakah hukum taqlid ?
  3. Apakah amalan-amalan yang sunnah dalam bulan Rajab ?
  4. Bagaimanakah hukumnya baiat ?
(dan lain-lain)
—————————
Pembahasan
-> Hubungan Bid’ah dengan Taqlid (2)
Tanya Jawab
  1. Bagaimana jika orang yang bertahun-tahun tidak sholat lalu bertaubat, apakah dia harus mengganti sholat bertahun-tahun tersebut ?
  2. Apakah Fadillah surat Yasin karena sering sekali banyak digunakan dalam acara-acara dimasyarakat ?
  3. Apakah ada sunnahnya mengawali suatu kegiatan dengan membaca al-Fatihah ?
  4. Bagaimanakah caranya menghilangkan fenomena Taqlid yang ada di masyarakat?
  5. Bagaimanakah hukum qiyamul lail berjamaah setiap minggu dalam rangka tarbiyah ?
  6. Apakah dengan bekerja di televisi swasta saya berdosa ?
  7. Apakah dzikir yang dilafadzkan ketika selesai sholat malam ? (dan lainnya)
—————————-
Pembahasan
-> Hubungan Bid’ah dengan Qiyas
-> Perbedaan dalam sebagian bid’ah
Tanya Jawab
  1. Bagaimana hukumnya memperbagus makam ?
  2. Bagaimanakah jika ada imam yang musbil ?
  3. Adakah sholat qobliyah jumat ? (dan lain-lainnya)
  4. Apakah hadits-hadits dhoif itu bisa dijadikan dalil dalam beramal ?
  5. Bagaimana jika kita mengikrarkan nadzar tetapi tidak berniat untuk nadzar ?
  6. Bagaimana berdakwah yang hikmah kepada masyarakat yang menutup diri dari permasalahan bid’ah ?
  7. Bagaimanakah kedudukan anak yang cacat dihadapan Allah ?
—————————
Pembahasan
-> Perbedaan dalam sebagian bid’ah 2
————————
Pembahasan:
-> Antara berbuat bid’ah dan Ijtihad
-> Antara Bid’ah dan Ahli Bid’ah
-> Antara Adat dan Ibadah
Tanya Jawab:
  1. Bagaimanakah hukumnya menggunakan celana panjang apakah tasyabbuh ?
  2. Bagaimankah hukum boikot produk-produk orang kafir ?
  3. Bagaimana hukumnya mengikuti Yasinan ?
  4. Bagaimana jika ibu telah bersumpah tidak akan meridhoi anaknya dan suaminya sampai dia mau mengikuti keyakinan agama ibu yang hanya berdasarkan kejawen dan primbon belaka ?
  5. Mengapa kata-kata bid’ah tidak pernah disampaikan di pengajian kampung-kampung saya ?
  6. Bolehkan jika kita ditanya bermadzhab apa, kita menjawab bermadzhab Rasulullah, sahabat, dan tabi’in ?
  7. Bagaimanakah hukumnya mabit dan sholat malam berjamaah ? (dan lainnya)
——————————
Pembahasan:
-> Antara Bid’ah dan Larangan
-> Antara Bid’ah dan Al-Mashlahah Al-Murshalah
Tanya Jawab:
  1. Manakah yang lebih penting, mempersatukan ummat atau memperingatkan ummat dari bid’ah ?
  2. Apa yang bisa dilakukan jika ada sanak atau saudara yang meninggal tanpa melakukan bid’ah ?
  3. Bagaimana jika shof wanita dalam masjid disebelah kanan atau sejajar dengan laki-laki ?
  4. Jadi apakah orang yang bersalaman setelah salam dalam sholat, sholawatan, tahlilan lebih buruk daripada pezina ?
  5. Manakah yang lebih bahaya, antara ahlul bid’ah dengan orang-orang kafir ?
  6. Bagaimanakah menjelaskan hadits “man tsanna sunnatan….” dan bagaimanakah jika kami bertaqlid dengan Alwi al-Maliki ?
  7. Manakah yang lebih utama, antara sholat tarawih di mushola dekat rumah (23 rakaat) tetapi tidak tuma’ninah dengan sholat dimasjid yang lebih sesuai sunnah tetapi agak jauh dari rumah ?
  8. Ada teman yang mengatakan bahwa darah orang kafir halal dan boleh juga diambil barangnya tanpa hak. Bagaimanakah hal ini ?
  9. Bagaimanakah mengutip ucapan syaikh Dr. Qordhowi ? (dan lainnya)
——————————
Pembahasan:
-> Kaitan antara Sarana dan Tujuan
-> Antara Kulit dan Isi
-> Antara Mayoritas dan Minoritas
Tanya Jawab:
  1. Bagaimanakah hukumnya kita mengikuti imam dalam berqunut shubuh ?
  2. Apakah bid’ah berdzikir dengan tasbih ?
  3. Bagaimanakah menyikapi adanya ikhtilaf berkenaan jumlah rakaat sholat tarawih (11 atau 23 rakaat) dalam masyarakat ?
  4. Apakah benar bahwa bid’ah dibagi empat ?
  5. Bagaimana jika kita membagikan zakat langsung kepada objeknya tanpa masuk baitul maal ?
  6. Bagaimanakah adab sujud tilawah ?
  7. Manakah yang lebih afdhol antara sholat tahajud dengan sholat tarawih di bulan Ramadhan ?
  8. Bagaimana jika seseorang itu memberikan sebuah kajian (taklim) hanya dengan kitab terjemahan saja ?
  9. Ada yang mengatakan bahwa ritual-ritual tahlilan adalah merupakan ajaran wali songo yang ingin mengganti ritual-ritual animisme dan dinamisme dengan yang lebih Islami. Bagaimana hal ini ? (dan lainnya)
—————————–
Pembahasan:
-> Jalan-Jalan Ahli Bid’ah
-> Berdebat dengan Ahli Bid’ah
-> Jalan keluar (Solusi) dari Bid’ah
Tanya Jawab:
  1. Nasehat kepada kaum muslimin yang masih suka membaca buku-buku Dr. Yusuf Qordhowi.
  2. Apakah termasuk riya’ jika kita menunjukkan amalan baik kepada anak kita dengan tujuan agar mereka menirunya ?
  3. Bagaimana jika shilaturahmi dengan saudara yang syiah ?
  4. Apakah semua amalan yang tidak ada di al-Quran dan sunnah adalah bid’ah ? Dan siapakah yang berhak menilai suatu perbuatan itu bid’ah ? (dan lain-lain)