Latest Posts

Tema Kajian: “MEMAHAMI MAKNA BID’AH” – Bid’ah Merusak ke Islaman (diambil dari pembahasan Kitab Fadhlul Islam)
Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy حفظه الله تعالى
=====================
Pemateri : Al Ustadz Qomar Suaidi, Lc حفظه الله تعالى
Tema Kajian Sesi : “CIRI-CIRI AHLI BID’AH”
==============================
Pemateri : Al Ustadz MUHAMMAD BIN UMAR AS SEWED حفظه الله تعالى
Tema Kajian Sesi : Meninggalkan Bid’ah dan Tidak Bermajelis Dengan Ahli Bid’ah
================
Pemateri : Al Ustadz Abdurrahman Thoyyib حفظه الله تعالى

Tema Kajian Sesi : Apakah pembagian tauhid menjadi 3 itu merupakah bid’ah?

================
Imam Ath-Thurthusyi dalam Al-Hawadits wal-Bida' berkata, "Kata bid'ah berasal dari kata al-ikhtira' yaitu sesuatu yang baru diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya" .[Lisan Al- 'Arab(IX/351), Maqayis Al-Lughah (1/209), (hnAl-QamusAl-Muhith: 906.] Di antara yang masuk dalam katagori ini adalah firman Allah,

"Allah adalah Pencipta langit dan bumi." (QS. Al-Baqarah: 117).

(Artinya, bahwa Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, pent.).

Demikian pula firman-Nya,

"Katakanlah: 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul." (QS. Al-Ahqai: 9).

Artinya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bukanlah seorang rasul yang pertama kepada penduduk bumi ini.

Dan masuk dalam katagori bid'ah ini adalah, "sesuatu yang diperbuat oleh hati, dikatakan lisan, dan dilakukan anggota badan. "[Lihat: halaman 40 terbitan Dar Ibrnil Jauzi. Damam, dengan tahqiq saya.]

Arti bid'ah seperti ini dinukil oleh Imam Abu Syamah Al-Maqdisi dalam kitabnya Al-Ba 'its 'Ala InkarAl-Bida' wa Al-Hawculits (hal 20) ialah sebagai berikut, "Kata bid'ah jika disebutkan secara mutlak, maka maksudnya adalah perkara baru yang tidak baik yang ada dalam agama. Dan yang seperti itu adalah kata mubtadi' (ahlu bid'ah). Dimana kata ini tidak digunakan kecuali dalam celaan. Tetapi dari sisi akar kata, maka bid'ah dapat dikatakan untuk sesuatu yang terpuji dan yang tercela. Sebab yang dimaksud dengan bid'ah secara bahasa adalah, sesuatu yang baru dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Karena itu, dikatakan kepada sesuatu yang sangat indah, "Dia itu bid'ah".

Al-Jauhari dalam Shihah Al-Lughah berkata, "Badi', mubtada' dan bid'ah, adalah hal baru dalam agama setelah agama dinyatakan sempurna."

Dengan demikian maka, defininsi bid'ah adalah, "Cara baru dalam agama yang dibuat untuk menyerupai syari'at dengan maksud untuk melebihkan dalam beribadah kepada Allah."[Lihat, Mi'yar Al-Mu'rib (1/352 ilan 358) oleh wansyarisyi.]

Imam Syathibi dalam Al-I'lisham (1/37) juga memilih definisi bid'ah seperti itu. Dan definisi tersebut adalah yang paling komprehenshif di antara beberapa definisi bid'ah.

Kemudian Imam Asy-Syatibi menjelaskan definisi bid'ah tersebut dengan panjang lebar yang intinya sebagai berikut,

"Ungkapan 'cara baru dalam agama' itu maksudnya, bahwa cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama. Tetapi sesungguhnya cara baru yang dibuat itu tidak ada dasar pedomannya dalam syari'at. Sebab dalam agama terdapat berbagai cara, di antaranya ada cara yang berdasarkan pedoman asal dalam syari'at, tetapi juga ada cara yang tidak mempunyai pedoman asal dalam syari'at. Maka, cara dalam agama yang termasuk dalam katagori bid'ah adalah apabila cara itu baru dan tidak ada dasarnya dalam syari'at.

Artinya, bid'ah adalah cara baru yang dibuat tanpa ada contoh dari syari'at.[Lihat, Mu'jamAl-ManahiAl-Lafdziyyahy. 304.] Sebab bid'ah adalah sesuatu yang ke luar dari apa yang telah ditetapkan dalam syari'ah.

Ungkapan "menyerupai syari'at" sebagai penegasan bahwa sesuatu yang diada- adakan dalam agama itu pada hakikatnya tidak ada dalam syari' at, bahkan bertentangan dengan syari'at dari beberapa sisi, seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang tidak ada dalam syari' at. Juga mengharuskan ibadah-ibadah tertentu yang dalam syari'at tidak ada ketentuannya.

Ungkapan "untuk melebihkan dalam beribadah kepada Allah", adalah pelengkap makna bid'ah. Sebab demikian itulah tujuan para pelaku bid'ah. Yaitu menganjurkan untuk tekun beribadah, karena manusia diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya seperti disebutkan dalam firman-Nya, " Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. "[QS. Adz-Dzari'at: 56.] Seakan-akan orang yang membuat bid'ah melihat bahwa maksud dalam membuat bid'ah adalah untuk ibadah sebagaimana dimaksudkan ayat tersebut, dan dia merasa bahwa apa yang telah ditetapkan dalam syari'at tentang undang-undang dan hukum-hukum belum mencukupi sehingga dia melebih-lebihkan dan menambahkan.

Saya berkata, "Juga terdapat definisi lain tentang bid'ah, yaitu: Sesuatu yang diadakan dan menyalahi kebenaran yang datang dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik tentang ilmu, amal atau sifat, disebabkan kerancuan pemahaman atau menganggap baik kepada sesuatu dan dijadikannya sebagai agama yang kokoh dan jalan yang lurus. "[Yaitu pendapat Asy-Syaumani yang dinukil oleh Al-'Adawi dalam Ushutfil Bida': 26.]

Dan Al-Fairuz Abadi dalam BashairDzawi Al-Tamyiz (II/ 231) berkata, "Bid'ah adalah hal baru dalam agama setelah agama disempurnakan." Dan dikatakan, "Sesuatu yang diadakan setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sal-lam wafat baik berupa ucapan maupun perbuatan." Bentuk jama'nya adalah bida'. Dan dikatakan pula, bahwa bid'ah adalah bentuk ucapan atau perbuatan, yang pengucap atau pelakunya tidak mengikuti pemilik syari'at dan huj-jah-hujjahnya yang berlaku serta pokok-pokoknya yang telah dikodifikasikan dengan teratur. Dan hal yang sama juga disebutkan Al-Abadi dalam Al-Qa-mus (halaman 906).

Dengan ketetapan di atas maka Anda mengetahui kesalahan orang yang mengatakan, bahwa bid'ah adalah "suatu perbuatan yang belum ada pada tiga abad pertama dan tidak terdapat dasarnya dalam empat sumber hukum [Iqamah Al-Hujjah "AlaAnnaAl-lkisarMinana'AbudiLaysabiBid'ah: 12, AI-Laknawi.] (Al Qur'an, Hadits, Ijma' danQiyas)."

Barangsiapa yang Mengerjakan Amalan yang tidak ada Keterangan dari Kami maka Dia Tertolak.

Demikianlah ketetapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap segala bentuk bid'ah.[Lihat. Ittiba' As-Sunan wa Ijtinab Al-Bida': 33-34.]

Syaikh Al-AlbanidalamIrwa' Al-Ghalil(nomor 88) berkata, "Hadits ini adalah kaidah besar dari beberapa kaidah dalam Islam dan merupakan penjelasan singkat tetapi maknanya padat yang disampaikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebab hadits ini sebagai dalil yang sangat jelas tentang tertolak dan batalnya segala bentuk bid'ah dan hal-hal yang baru. "[Lihat. Syarah Shahih Muslim: Xfl/16.]

Imam Syaukani dalam Nailul Authar (H/69-70) berkata dalam menjelaskan hadits tersebut, "Yang dimaksud dengan kata "amr" dalam redaksi: "laisa 'alaihiamrwia", adalah bentuk tunggal dari kata "Al-umur".[Sebagai peniadaan pendapat yang mengatakan bahwa kata "amr" di sini merupakan bentuk tunggal " Awa-mir"] Artinya, sesuatu yang tidak dilaksanakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, sedang kata "radd" adalah mashdar dengan arti isim maf'ul: "mardud", artinya, "tertolak".

Hadits ini adalah salah satu kaidah dalam agama. Sebab di dalamnya masuk beberapa hukum yang tidak terhitung. Dan betapa jelasnya hadits ini sebagai dalil tentang batalnya pendapat ulama fiqh yang membagi bid'ah kepada lima bentuk bid'ah sesuai jumlah hukum syar'i, seperti bid'ah wajib, bid'ah sunnah, bid'ah haram, dan seterusnya. Maka hendaknya demikian itu menjadi perhatian Anda.

Dalam Fathul-Bari disebutkan, "Hadits ini merupakan pokok dan kaidah dasar dalam Islam. Sebab arti hadits tersebut adalah, "Barangsiapa melakukan hal baru dalam agama yang tidak berdasarkan dalil-dalil agama maka tidak boleh diperhatikan."

Imam Nawawi berkata, "Hadits ini merupakan dalil yang harus diperhatikan dan digunakan untuk membatalkan berbagai kemunkaran dan hendaklah menyebarluaskan hadits ini dalam penggunaan dalil."[Syarah Muslim: XII/16]

Ath-Thukhi [Lihat Ushutfil Bida': 105, Al-Adawi menyebutkan dengan nama At-Thufi, barangkali ini yang benar] berkata, "Hadits ini layak untuk disebut sebagai separuh dari berbagai dalil syar'i. Sebab dalil ini terdiri dari dua premis. Karena yang dituntut dalam dalil, yaitu menetapkan hukum atau menafikannya. Dan hadits ini adalah premis besar yang menetapkan setiap hukum syar' i dan menafikannya. Sebab yang tersurat dalam dalil ini adalah premis universal. Seperti dikatakan tentang wudhu dengan air najis, "Ini bukan dari perkara syar'i, dan setiap amal yang demikian tertolak, maka amal itu tertolak". Dimana premis kedua menjadi kuat dengan dalil ini, sedangkan perselisihan adalah dalam premis pertama.

Adapun yang tersirat dalam hadits itu adalah, bahwa orang yang mengerjakan amal yang ada perintah syari' maka amal itu benar. Jika disepakati adanya hadits yang menjadi premis pertama dalam menetapkan setiap hukum syar' i dan menafikannya niscaya kedua hadits independen dengan semua dalil syar'i. Tetapi permis yang kedua tidak ada, maka hadits ini merupakan separuh dari dalil-dalil syar' i."

Syaikh Ali Mahfudz dalam Al-Ibda 'fi MadharAl-Ibtida' (hal 45) berkata, Kata "sesuatu" dari redaksi, "Sesuatu yang tidak termasuk dari urusan kami", adalah mencakup ucapan, perbuatan dan keyakinan. Sebab "sesuatu" disini dalam bentuk umum. Jadi segala sesuatu yang tidak ada pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan juga tidak di dukung kaidah universal dan dalil umum [Tentang dalil umum ini akan dijelaskan secara terperinci pada bab Tuntunan Salaf] maka harus dinafikan, yaitu sesuatu yang disebut "bid'ah."

Sebagaimana redaksi "Siapa yang mengerjakan amal" juga menunjukkan arti umum. Sebab kata "amal" disebutkan dengan bentuk nakirah (in-definitif), dan tidak disebutkan: "Siapa yang mengerjakan demikian atau demikian". Maka hadits ini menjadi pedoman besar yang dijadikan pegangan oleh para ulama dan dipopulerkannya dalam menafikan setiap amal yang tidak sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.[Isyraqah Asy-Syur'ah: 82]

Dan telah kami jelaskan sebelumnya bahwa bid'ah tidak berlaku dalam lima hukum syar'i, tetapi kami keluarkan tiga dari lima itu sehingga yang tersisa adalah makruh dan haram. Dengan demikian, maka bid'ah terbagi menjadi dua bagian: bid'ah haram dan bid'ah makruh. Jadi bid'ah itu masuk dalam katagori hal-hal yang dilarang dan tidak keluar dari makruh atau haram. Ini yang pertama.

Kedua, jika kita cermati makna bid' ah maka kita dapatkan bahwa bid'ah beragam tingkatannya. Di antaranya ada bid'ah yang sampai pada tingkat kekafiran yang nyata, seperti bid'ah jahiliyah yang diperingatkan dalam Al-Qur'an. Demikian pula bid'ah orang-orang munafik yang menjadikan agama sebagai tameng untuk melindungi nyawa dan harta.[Sayangnya sikap orang-orang munafik seperti ini dilakukan oleh sebagian manusia pada masa kita sekarang. La Haula u ala Quwwata lila billah] Juga ada bentuk-bentuk bid'ah lain yang tidak diragukan lagi sebagai bentuk kekafiran yang nyata.

Dan di antara bid'ah, ada yang dalam tingkatan maksiat tetapi tidak sampai kafir, atau diperselisihkan tentang sampai dan tidaknya kepada kekafiran. Seperti bid'ah yang dilakukan kaum Khawarij, Qadariyah, Murji'ah, dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kelompok-kelompok yang sesat.

Juga terdapat bid'ah yang masuk dalam katagori maksiat, dan para ulama sepakat bahwa bid'ah tersebut tidak sampai jatuh dalam bentuk kekafiran. Seperti bid'ah shalat sunnah semalam suntuk, puasa dengan berdiri di terik matahari, dan mengebiri untuk memutuskan nafsu seks.

Di antara bentuk bid'ah. ada bid'ah yang makruh,[Bahkan bid'ah haram karena masuk dalam keumuman sabda Nabi Shallallahu Alaihi wti Sdllain "Setiap bid 'ah adalah sesat dan setiap yang sesat ilalam neraka." Dan akan disebutkan pada bab berikutnya tentang pernyataan Imam Asy-Syathtbi bahwa bila beliau menyatakan makruh, maka yang dimaksudkan ada lah haram. Dengan demikian maka tidak ada masalah] seperti membaca Al Qur'an dengan berjama'ah secara koor.[Lihat komentar saya dalam syarah kitab Al-Hawadits wal Bida': 161] berkumpul untuk berdo'a pada sore hari' Arafah, bersama-sama menyebut nama para penguasa dalam kliut-bah Jum'at. demikian itu seperti yang dituturkan Abdussalam yang ber-madzhabSyafi'i, dan lain-lain.

Dengan demikian, maka kita mengetahui bahwa bentuk-bentuk bid'ah tidak dalam satu tingkatan. Tetapi juga tidak benar bila mengatakan bahwa bid'ah hanya dalam satu hukum, seperti hanya makruh atau haram saja.

Ketiga, bahwa maksiat ada yang kecil dan juga ada yang besar. Dan hal itu dapat diketahui apakah maksiatnya dalam hal-hal yang primer, sekunder atau tersier. Jika suatu maksiat berkaitan dalam masalah primer maka ia termasuk ke dalam dosa besar. Dan jika dalam masalah tersier, maka ia pun ke dalam dosa yang paling ringan. Sedang maksiat yang termasuk dalam masalah sekunder, maka dosanya berada di tengah antara dua tingkatan di atas.

Sesungguhnya setiap tingkatan terdapat pelengkapnya. Tentu, tidak mungkin bila yang melengkapi berada dalam satu tingkatan dengan yang dilengkapi. Sebab yang melengkapi dengan yang dilengkapi bagaikan sarana dengan tujuan, dimana sarana tidak akan sampai kepada tingkatan tujuan. Dengan demikian, tampak jelas tentang adanya perbedaan tingkatan dalam maksiat dan pelanggaran.

Kemudian jika direnungkan, dalam hal-hal yang primer pun terdapat tingkatan-tingkatannya. Sebab tingkatan nyawa tidak sebagaimana tingkatan agama. Orang kafir boleh dibunuh ketika berperang. Dan untuk menjaga agama diperbolehkan mengorbankan jiwa sampai meninggal dalam memerangi orang-orang kafir dan orang-orang yang merusak agama.

Lalu tingkatan akal dan harta juga tidak sama dengan tingkatan nyawa. Dimana Islam membolehkan qishash akibat adanya pembunuhan. Demikian juga yang lainnya.

Sebab jika kita renungkan tingkatan nyawa, maka di sana kita dapatkan berbagai tingkatan. Dimana memotong salah satu anggota tubuh tidak seperti menyembelih, dan melukai tidak sebagaimana memotong anggota badan. Dan penjelasan semua itu ada dalam kitab Ushul Fiqh.

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa bid'ah itu adalah bentuk kemaksiatan yang memiliki tingkatan-tingkatan seperti halnya tingkatan-tingkatan dalam maksiat. Artinya, di antara bid'ah ada yang masuk dalam hal-hal primer, ada yang masuk dalam masalah sekunder dan juga ada yang masuk dalam tingkatan tersier. Dan bid'ah yang masuk dalam tingkatan primer ada yang dalam masalah agama, jiwa, keturunan, akal, dan harta.[Al-I'tisham. II/36-39]

Imam Syathibi berkata, "Jika telah nyata bahwa bentuk-bentuk bid'ah itu tidak dalam satu tingkatan dalam celaan dan larangan, tetapi ada yang makruh [Bandingkan hal ini dengan catatan kaki No. 2 hlm. 11] dan juga ada yang haram, maka sesungguhnya kesesatan dalam bid'ah mencakup berbagai bentuk kesesatan sebagaimana ditegaskan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Setiap bid'ah adalah sesat" .[Al I'tisham: II/49]

Syaikli Al-Albani dalam kitabnya Hajjah An-Nabi (hal. 103) berkata, "Hendaknya diketahui bahwa bahaya bid'ah itu tidak pada satu tingkatan, tetapi dalam beberapa tingkatan. Sebagiannya ada yang sampai kepada kesyirikan dan kekafiran yang nyata, dan sebagian yang lain di bawah itu, tetapi wajib kita ketahui bahwa bid'ah terkecil yang dilakukan seseorang dalam agama adalah haram dan tidak seperti anggapan sebagian orang, bahwa bid'ah hanya sampai pada tingkatan makruh saja.

Oleh karena itu, bid'ah adalah sesuatu yang sangat berbahaya, tetapi sayang hanya sekelompok ulama saja yang mengetahuinya, sedang kebanyakan manusia lalai darinya. Cukup sebagai dalil tentang bahaya bid'ah adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Sesungguhnya Allah menolak taubat setiap pelaku bid'ah hingga dia meninggalkan bid'ahnya. ". (HR. At-Thabrani).[Ad-Dhiya' Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah, dan lain-lain dengan sanad dan dinyatakan hasan oleh Al-Mundziri. Dan lihat Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah No. 1620.]

Kesimpulannya, bahwa setiap amal yang tidak mengikuti Sunnah maka tidak akan mendekatkan pelakunya kepada Allah, bahkan akan semakin menjauhkannya dari Allah. Sebab Allah memerintahkan manusia dan jin untuk beribadah kepada-Nya dengan ketentuan yang telah diperintahkan-Nya dan tidak berdasarkan akal dan hawa nafsu.[Madarij As-Salikin: 1/84]

Bantahan terhadap Syubhat (Salah Paham).

Abdullah Al-Ghumari dalam bukunya yang tidak sesuai dengan namanya, ltqan Ash-Shan'ahfi TahqiqMa'na Al-Bid'ah (hal 22), menyebutkan hadits,

"Barangsiapa yang membuat hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya maka ia tertolak." [Ini adalah satu dari dua riwayat dalam hadits ini]

Lalu dia berkata, "Hadits ini mengkhususkan dan menjelaskan maksud hadits,

"Setiap bid'ah adalah sesat"

Sebagaimana tampak dan jelas. Sebab jika semua bid'ah sesat tanpa pengecualian, niscaya hadits itu mengatakan,



Allah berfirman,

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu. " (QS. Al-Maidah: 3). 

Ayat yang mulia ini menunjukkan tentang kelengkapan dan kesempurnaan syari'at serta kecukupannya dalam segala hal yang dibutuhkan orang-orang dimana mereka diperintahkan Allah untuk mengabdi kepada-Nya seperti ditegaskan dalam firman-Nya,

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. "(QS. Adz-Dzariat: 56). 

Ketika menjelaskan ayat ke-3 dari surat Al Maidah tersebut. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (II/19) berkata, "Ini adalah nikmat yang terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi ua Sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia danjin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram melainkan apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari' atkannya.[Ibnu Jariri dan Ibnu Mundzir meriwayatkan pernyataan Ibnu Abbas tentang ayat ini. Disebutkan, "Allah memberitahukan kepada nabi-Nya dan orang orang mu'min bahwa Dia telah menyempurnakan agama bagi mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan tambahan untuk selama-lamanya." (Lihat: Ad-Durr Al Mantsur: III/17).]

Setiap hal yang disampaikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah benar dan tepat, tanpa ada kebohongan dan kekeliruan sedikit pun di dalamnya. Allah berfirman,"Dan sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil." Artinya, benar dalam berita serta adil dalam perintah dan larangan-Nya. Maka ketika Allah menyempurnakan agama bagi umat Islam, berarti telah sempurna pula nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Karena itu, tidak dibenarkan jika seseorang membuat ketentuan baru dalam syari'at. Sebab menambahkan syari'at berarti menyalahkan Allah dan memberi pengertian bahwa syari'at masih kurang dan belum lengkap. Dan tindakan tesebut bertolak belakang dengan apa yang telah dijelaskan dalam kitabullah (Al-Qur'an). Maka tidak terbayangkan bila manusia menambahkan syari'at Allah dan dianggap tidak tercela.[Al-Bid'ah wal Mashalih Al-Mursalah (hlm 111) oleh Taufiq Al-Wa'i]

Pemahaman ini adalah pemahaman yang diyakini oleh semua ulama Islam, dan segala puji bagi Allah, tetapi sayang, kebanyakan manusia mengingkarinya . Firman-Nya, "Dan mereka mengingkari karena kezhalimandan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini kebenarannya." (An-Naml: 115)

Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, ia berkata, "Orang-orang Yahudi berkata kepada Umar Radhiyallahu Anhu, 'Sesungguhnya kamu membaca ayat dalam kitabmu. Seandainya ayat itu turun kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya.' Umar Radhiyallahu Anhu berkata,' Apakah itu?' Mereka menjawab, ' Ayat' Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu.' Umar berkata, 'Demi Allah, sungguh aku mengerti hari diturunkannya ayat tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan waktu turunnya. Ayat itu turun kepadanya pada sore hari 'Arafah, hari Jum'at'. "[HR. Bukhari (45) dan Muslim (3017)]

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kepada suatu umat sebelumku, melainkan dia wajib menunjuki umatnya kepada kebaikan yang dia ketahui dan memperingatkan mereka dari keburukan yang dia ketahui. ". (HR. Muslim dari Ibnu Umar).

Imam Thabrani dalam Mu 'jam Al-Kabir (1647) menyebutkan riwayat dari Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggalkan kami dan tidak ada seekor burung yang mengepakkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau menyebutkan kepada kami ilmu tentangnya." Ia berkata, "Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, 'Tidak tersisa sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepadamu'. [Sanadnya shahih. Lihai takhrijnya dalam Al-Iiman (21399). Ar-Risalalr 93, oleh Imam Asy-Syafi'i tah-qiq Syaikh Ahmad Syakir, dan Miftah Al-Jannah: 32 oleh As-Suyuthi Ta 'liq Badar Al-Badar.]

Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa setiap sesuatu yang mendekatkan kita kepada surga, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjelaskannya kepada kita, dan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari neraka, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga telah menjelaskannya kepada kita. Oleh karena itu, suatu bid'ah, apa pun bentuknya, adalah penyanggahan terhadap syari'at dan kelancangan yang sangat buruk. Sebab dengan bid'ahnya itu, berarti pelakunya menyatakan bahwa syari'at tidak cukup dan tidak lengkap sehingga membutuhkan hal yang baru dan penambahan darinya.

Islam adalah dien yang sempurna. Itulah yang dipahami sepenuhnya oleh para shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebagaimana disebut kan dalam riwayat yang shahih, bahwa Ibnu Mas'ud berkata, "Ikutilah sun-nah, dan janganlah membuat bid'ah. Sebab sesungguhnya kamu telah dicukupkan, dan setiap bid'ah adalah sesat. "[HR. Abu Khaitsamah dalam "Al-Ilmu" (nomor 54) dari jalan Ibrahim An-Nakha'i ia berkata, telah berkala Abdullah. Dan sarad ini shahih Sebab sebagaimana dikenal dari Ibrahim dalam bentuk ini bahwa sanad tersebut diriwayatkan lebih dan satu orang dari Ibnu Mas'ud.]

Kesimpulannya, bahwa orang-orang yang menyatakan baik kepada hal-hal yang baru (bid'ah) sama dengan menyatakan bahwa syari'at tidak sempurna bagi mereka, sehingga firman Allah "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu" tidak dihiraukan lagi oleh mereka."[Al-rtishaminil.]

Dengan demikian maka Ahlu bid'ah mengatakan, baik secara langsung atau tidak langsung, bahwa syari'at tidak lengkap dan masih tersisa hal-hal yang harus dibenarkan. Sebab jika mereka meyakini kelengkapan dan kesempurnaan syari'at dari semua sisi, niscaya mereka tidak akan membuat hal-hal baru (bid'ah) dan tidak mengoreksi syari'at. Dan orang yang mengatakan, bahwa syari'at belum sempurna adalah sesat dari jalan yang lurus.

Ibnul Majisyun berkata, "Saya mendengar Imam Malik berkata, 'Barangsiapa yang membuat bid'ah dalam Islam dan dianggapnya sebagai kebaikan maka sesungguhnya dia menganggap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu." Maka, apa yang pada hari itu bukan agama, pada hari ini pun bukan agama juga. "[Al-I'tisham 1/49.]

"Sesungguhnya cara melaksanakan agama dan ibadah yang benar adalah apa yang telah dijelaskan oleh Pencipta manusia melalui lisan Rasul-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka, siapa yang menambahi atau menguranginya, sesungguhnya dia telah menyalahi Pencipta Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui karena dia meracik obat sendiri, maka boleh jadi sesuatu yang dianggap obat itu ternyata sebagai penyakit dan yang dianggap ibadah ternyata sebagai maksiat, sedang dia tidak merasa. Sebab agama ini telah benar-benar lengkap dan sempurna. Maka siapa yang menambahkan sesuatu ke dalamnya, sesungguhnya dia telah menyangka bahwa agama ini masih kurang dan dia menyempurnakannya dengan menganggap baik sesuatu itu menurut akalnya yang rusak dan khayalannya yang suram".[Mifiahul JannahLamllahaMallah hlm. 58oleh Al-Ma'shumidengan tahqiq saya]

Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya Al Qaul Al-Mufid (hal 38) berkata, ketika membantah sebagian orang yang melakukan bid'ah dalam sesuatu perkara menurut pendapat mereka sendiri, "Jika Allah telah menyempurnakan agama-Nya sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggal, lalu untuk apa pendapat yang dibuat orang-orang setelah Allah menyempurnakan agama-Nya? Jika pendapat itu merupakan bagian dari agama menurut keyakinan mereka maka berarti bahwa agama tidak sempurna melainkan dengan pendapat mereka. Dan itu berarti penolakan terhadap Al-Qur'an. Dan jika pendapatnya tidak termasuk bagian agama, lalu apa manfaatnya dia menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak termasuk dalam agama?"

Ini adalah hujjah yang sangat kuat dan dalil yang agung, yang tidak mungkin bagi para penggagas bid'ah mampu untuk membantah dengan bantahan apa pun. Maka jadilah ayat yang mulia tersebut sebagai yang pertama-tama menampar wajah orang-orang yang menggagas bid'ah, menghinakan mereka dan mementahkan berbagai hujjah mereka."

Sebab "setiap pendapat yang baru setelah turunnya ayat ini adalah kelebihan, tambahan dan bid'ah".[Siyar A'lm An-Nabaia (XVIII/509).]