Latest Posts

Pengertian bid’ah secara ringkas

Sebelumnya ada baiknya kita mengetahui apa itu bid’ah. Sebenarnya untuk lebih memahami bid’ah maka butuh pemahasan yang agak panjang dengan berbagai jenis dan macam serta kaidah-kaidahnya. Akan tetapi kami bawakan pejelasan ringkasnya agar lebih memahami judul dari tulisan ini.
Bid’ah secara ringkas adalah:
Pakar Bahasa Al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bid’ah,
الحدث في الدين بعد الإكمال
Suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna “1
atau
ما أحدث في الدين من غير دليل
Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil.2
Dan pengertian yang cukup lengkap sebagaimana dijelaskan Ast-Syathibi dalam kitab Al-I’tisham (kitab yang membahas seluk-beluk bid’ah). Beliau menjelaskan bid’ah adalah:
طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه
“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah .”
Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi). Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah
طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية، يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية
Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah).3

Bid’ah adalah dalam urusan agama saja

Dari berbagai penjelasan ulama mengenai pengertian bid’ah, sudah jelas bahwa bid’ah adalah dalam urusan agama bukan urusan dunia.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْأَحْدَثَفِىأَمْرِنَاهَذَامَالَيْسَمِنْهُفَهُوَرَدٌّ
Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”4
Demikian juga penjelasan ulama yang lain.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata mengenai bid’ah,
مَنْاِخْتَرَعَفِيالدِّينمَالَايَشْهَدلَهُأَصْلمِنْأُصُولهفَلَايُلْتَفَتإِلَيْهِ
Siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama lalu tidak didukung oleh dalil, maka ia tidak perlu ditoleh.”5
Beliau juga berkata,
أصلهاماأحدثعلىغيرمثالسابق،وتطلقفيالشرعفيمقابلالسنّةفتكونمذمومة
“ (Bid’ah) Asalnya adalah apa-apa yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya dan dimutlakkandalam syariat (agama) yang menyelisihi sunnah sehingga menjadi tercela.”6
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata mengenai bid’ah,
فكلُّمنأحدثشيئاً،ونسبهإلىالدِّين،ولميكنلهأصلٌمنالدِّينيرجعإليه،فهوضلالةٌ،والدِّينُبريءٌمنه،وسواءٌفيذلكمسائلُالاعتقادات،أوالأعمال،أوالأقوالالظاهرةوالباطنة.
Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqad (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin.”7

Bid’ah bukan dalam urusan dunia

Mereka yang tidak paham mungkin rancu dengan istilah bid’ah secara bahasa. Secara bahasa bid’ah adalah segala sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Jadi pesawat, HP dan laptop di zaman ini adalah bid’ah secara bahasa, bukan pengertian bid’ah dalam syariat.
Pengertian bid’ah secara bahasa adalah:
أنشأه على غير مِثَال سَابق
Membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. 8
Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
بَدِيعُالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِ
Allah Pencipta (Badii’) langit dan bumi.” ( Al Baqarah: 117)
Yaitu mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.
Juga firman-Nya,
قُلْمَاكُنْتُبِدْعًامِنَالرُّسُلِ
Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (Al Ahqaf: 9)
Muhammad Al-Ruwaifi’ Al-Irfiqiy menjelaskan,
أي ما كنت أول من أرسل، قد أرسل قبلي رسل كثير
Maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus, sesungguhnya telah diutus sebelumku banyak rasul.”9
Jadi jelaslah bahwa pergi haji dengan naik pesawat bukanlah hal bid’ah dalam agama sebagimana pengertian bid’ah secara syariat. Akan tetapi pesawat adalah bid’ah dalam bahasa (penemuan baru yang tidak ada contoh sebelumnya). Dan macam-macam transportasi adalah masalah dunia. Begitu juga dengan perkara dunia yang lainnya.
Penulis: Raehanul Bahraen
1  Al-Qamus Al-Muhith hal. 702, Mu’assasah Risalah, Beirut, cet. VIII, 1426 H, Syamilah
2  Qawa’id Ma’rifatil Bida’ hal. 8, syamilah
3  AI-I’tisham hal 51-52, Dar Ibnu Affan, Saudi, cet. I, 1412 H, Syamilah
4  HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718
5  Fathul Bari 5/302, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah
6  Fathul Bari 4/532, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah
7  Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam 2/128, Mu’assasah Risalah, Beirut, cet. VII, 1422 H, syamilah
8  Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/43, Majma’ Al Lugah Al ‘Arabiyah, Darud Dakwah, Syamilah
9  Lisanul Arab 8/6, Dar Shadir, Beirut, cet. III, 1414 H, Syamilah
Bid’ah adalah hal yang baru dalam agama yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Salam. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
من أحدث في أمرِنا هذا ما ليس فيه فهو ردٌ
Barangsiapa yang mengadakan hal baru dalam islam maka amalannya tertolak” (HR. Bukhari).
Banyak orang menganggap apa yang ia lakukan sebagai suatu ibadah yang disyariatkan, namun kenyataanya tidak seperti yang mereka inginkan, karena keshahihan ibadah bukan ditimbang dengan penglihatan manusia, namun ditimbang dengan dua syarat:
  1. Ikhlas.
  2. Sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Di zaman ini telah banyak dari kaum muslimin tidak lagi memperdulikan dua syarat ini, maka tak jarang banyak kita temui ibadah yang kosong dari dua syarat ini, terutama syarat ke dua.
Ibadah yang tidak sesuai dengan petunjukan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam adalah sia-sia bahkan berdosa, karena ini sama saja menganggap syariat yang Allah turunkan tidak sempurna perlu tambahan.  Padahal Allah ta’ala berfirman,
﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإسْلامَ دِينًا ﴾ [المائدة: 3
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3).
Maka perbuatan bid’ah bukanlah perkara yang enteng, RasulullahShallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda,
إِيَّاكُمْ ومُحدَثاتِ الأمورِ ، فإنَّ كُلَّ مُحدَثَةٍ بِدعَةٌ ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ
Hindarilah kalian hal hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah ada sesat” (HR. Ahmad no.1625).
Sebagian para ulama memberikan sebuah rumus untuk mengetahui amalan amalan tersebut bidah atau tidak, rumus tersebut sebagai berikut:
Jika kita menemui sebuah amalan maka timbanglah:
  • Apakah Rasulullah mampu mengerjakan amalan tersebut atau tidak?
  • Apakah Rasulullah melewati momen atau waktu saat ibadah tersebut dilakukan atau tidak?
  • Apakah ada khabar yang shahih bahwa Rasulullah melakukannya atau tidak?
Contoh:
Maulid Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam atau perayaan hari ulang tahun RasulullahShallahu ‘Alaihi wa Salam.
Pertama, apakah Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Salam mampu melakukan amalan yang dikerjakan orang orang saat hari maulid di zaman ini? Tentu jawabannya: sangat mampu.
Kedua, apakah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam dalam hidupnya pernah melewati hari ulang tahunnya? Jawabannya: tentu melewatinya, namun beliau tidak mengadakan peringatan tersebut.
Ketiga, adakah khabar yang shahih bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam melakukanya? Jawabanny: tidak.
Maka jadilah amalan maulid Nabi tersebut adalah bidah. Kalau memang amalan tersebut baik dan bermanfaat tentu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam akan melakukannya karena Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam tidak mempunyai halangan apapun untuk melakukannya.
Namun jika telah datang khabar yang shahih bahwa RasululahShallahu ‘Alaihi wa Salam melakukannya maka amalan tersebut sudah sesuai petunjuk nabi, maka perlu keikhlasan untuk diterimanya amalan kita.

Penulis: Muhamad Chalid Syari

1. Firman Alloh :

سبحانھوتعالى

الیَْومَْأكَمْلَْتُلكَمُْدیِنكَمُْوأَتَمْمَْتُعلَیَكْمُْنعِمْتَِيورََضیِتُلكَمُُالإِسْلامََدیِناًالیَْومَْأكَمْلَْتُلكَمُْدیِنكَمُْوأَتَمْمَْتُعلَیَكْمُْنعِمْتَِي

ورََضیِتُلكَمُُالإِسْلامََدیِناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah: 3)

Malik bin Anas رحمھالله berkata: “Barang siapa yang melakukan suatu bid’ah dalam Islam yang

dia menganggap baik bid’ah tersebut, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad صلى

اللهعلیھوسلم telah mengkhianati risalah ini. Sebab Alloh berfirman: “Pada hari ini telah

Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah

Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah: 3)”

Oleh sebab itu apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka ia bukan termasuk

agama pula pada hari ini” [Al I’tisham oleh Asy Syathibiy, 1/64]




Asy Syaukaniy berkata: “Maka jika Alloh telah menyempurnakan agamaNya sebelum NabiNya

صلىاللهعلیھوسلم wafat, maka apa artinya pendapat bid’ah yang dibuat-buat oleh kalangan ahli

bid’ah tesebut!?? Kalau memang hal tersebut merupakan agama menurut keyakinan mereka,

maka berarti mereka telah beranggapan bahwa agama ini belum sempurna kecuali dengan

tambahan pemikiran mereka, dan itu berarti pembangkangan terhadap Al Qur’an. Kemudian

jika pemikiran mereka tersebut tidak termasuk dalam agama, maka apa manfaatnya mereka

menyibukkan diri mereka dengan sesuatu yang bukan dari agama ini.”!?

Ini merupakan hujjah yang kokoh dan dalil yang agung yang selamanya tidak mungkin dapat

dibantah oleh pemilik pemikiran tersebut. Dengan alasan itulah, hendaknya kita menjadikan

ayat yang mulia ini sebagai langkah awal untuk menampar wajah-wajah ahli logika,

membungkam mereka serta mematahkan hujjah-hujjah mereka.” [Al Qaulul Mufid Fii Adillatil

Ijtihaad Wattaqliid, hal. 38, Merupakan bagian dari Risalah Assalafiyyah, Cet: Daar Al Kutub Al

‘Ilmiyyah.]




2. Hadits dari Jabir bin Abdullah رضياللهعنھ bahwasanya Rosululloh صلىاللهعلیھوسلم sering

mengatakan dalam khutbahnya:

أمابعدفإنخیرالحدیثكتاباللهوخیرالھدىھدىمحمدوشرالأمورمحدثاتھوكلبدعةضلالة

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Alloh dan sebaik-baik

petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلىاللهعلیھوسلم dan seburuk-buruk perkara adalah yang

dibuat-buat dan setiap bid’ah itu sesat”. [Hadits ini ditakhrij oleh Muslim, no. 867]




3. Dari ‘Irbadh bin Saariyah رضياللهعنھ ia berkata:

وعظنارسولاللهصلىاللهعلیھوسلمموعظةوجلتمنھاالقلوبوذرفتمنھاالعیون ,فقلنایلرسولاللهكأنھا

موعظةمودعٍفأوصنا ,قال -أوصیكمبتقوىاللهعزوجل ,والسمعوالطاعةوإنتأمرعلیكعبد ,فإنھمنیعش

منكمفسیرىاختلافاًكثیراً .فعلیكمبسنتيوسنةالخلفاءالراشدینالمھدینعضواعلیھابالنواجذ ,وإیاكم

ومحدثاتالأمورفإنكلبدعةضلالةوعظنارسولاللهصلىاللهعلیھوسلمموعظةوجلتمنھاالقلوبوذرفت

منھاالعیون ,فقلنایلرسولاللهكأنھاموعظةمودعٍفأوصنا ,قال -أوصیكمبتقوىاللهعزوجل ,والسمع

والطاعةوإنتأمرعلیكعبد ,فإنھمنیعشمنكمفسیرىاختلافاًكثیراً .فعلیكمبسنتيوسنةالخلفاءالراشدین

المھدینعضواعلیھابالنواجذ,وإیاكمومحدثاتالأمورفإنكلبدعةضلالة

Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati

dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,"Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan

nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat"

Rasulullah bersabda, "Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang

Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang

hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal

menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah

Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian.

Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid'ah itu sesat." [Hadits ini

dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud, no. 4607, At Tirmidziy, no. 2676 dan beliau

mengatakan (hadits ini) hasan shahih, dan Ibnu Majah, no.44, Ad Darimiy, (1/44-45). Al Bazzaar

berkata: Hadits ini Tsaabit Shahiih. Ibnu Abdil Barr berkata: (derajat) hadits ini seperti yang

dikatakan oleh al Bazzaar, Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi, hal. 549.]

Berkata Ibnu Rajab: “Perkataan beliau كلبدعةضلالة“ : صلىاللهعلیھوسلم ” –setiap bid’ah itu

adalah kesesatan- merupakan jawami’ul kalim (satu kalimat yang ringkas namun mempunyai

arti yang sangat luas -pent) yang meliputi segala sesuatu, kalimat itu merupakan salah satu dari

pokok-pokok ajaran agama yang agung” [Jami’ul ‘ulum wal hikam, hal. 28)




Berkata Ibnu Hajar: “Perkataan beliau كلبدعةضلالة“ : صلىاللهعلیھوسلم ” –setiap bid’ah itu

adalah kesesatan-, merupakan suatu kaidah agama yang menyeluruh, baik itu secara tersurat

maupun tersirat. Adapun secara tersurat, maka seakan-akan beliau bersabda: “Hal ini bid’ah

hukumnya dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”, sehingga ia tidak termasuk bagian dari

agama ini, sebab agama ini seluruhnya merupakan petunjuk. Oleh karena itu maka apabila

telah terbukti bahwa suatu hal tertentu hukumnya bid’ah, maka berlakulah dua dasar hukum

itu (setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan bukan dari agama), sehingga kesimpulannya

adalah tertolak.”. [Fathul Baariy, (13/254)

Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Sesungguhnya perkataan beliau :صلىاللهعلیھوسلم

كلبدعة“ ” –setiap bid’ah-, merupakan ungkapan yang bersifat umum dan menyeluruh, karena

diperkokoh dengan kata yang menunjukkan makna menyeluruh dan umum yang paling kuat,

yakni kata كل(setiap)” [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul Ibdaa’, hal. 13]




Beliau berkata pula: “ Maka setiap apa saja yang diklaim sebagai bid’ah hasanah, maka

hendaklah dijawab dengan dalil ini. Dan atas dasar inilah, maka tak ada sedikitpun peluang

bagi ahlul bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka itu sebagai bid’ah hasanah. Karena ditangan

kita terhunus pedang pamungkas yang berasal dari Rosululloh صلىاللهعلیھوسلم , yakni kalimat “ كل

بدعةضلالة ” –setiap bid’ah itu adalah kesesatan-“.

Sesungguhnya pedang pamungkas ini dibuat dalam “industri kenabian dan kerasulan”, bukan

hasil ciptaan berbagai rumah produksi yang penuh kegoncangan, ia merupakan produk kenabian

yang diciptakan secara optimal. Karena itulah tidak mungkin orang yang memiliki pedang

pamungkas seperti ini akan mampu dihadapi oleh siapapun dengan suatu bid’ah yang dianggapnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rosululloh صلىاللهعلیھوسلم telah mengatakan: “ كل

بدعةضلالة ” –setiap bid’ah itu adalah kesesatan-. [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul

Ibdaa’]




4. Dari ‘Aisyah رضياللهعنھا berkata: Rosululloh صلىاللهعلیھوسلم bersabda:

منأحدثفيأمرناھذامالیسمنھفھوردمنأحدثفيأمرناھذامالیسمنھفھورد

Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami,

maka dia tertolak (Muttafaqun ‘Alaihi)

Asy Syaukaniy berkata: “Hadits ini merupakan salah satu dari kaidah-kaidah agama, sebab

hadits ini mendasari hokum-hukum yang tiada terbatas. Dan betapa tegas hadits ini dan betapa

jelas indikasinya terhadap kebathilan para fuqaha’ yang membagi bid’ah menjadi beberapa

macam serta hanya menolak sebagian bid’ah saja tanpa ada dalil yang mengkhususkannya baik

dalil aqly maupun dalil naqly”.




5. Dari Abdullah bin ‘Ukaim bahwasanya ‘Umar رضياللهعنھ berkata:

إنأصدقالقیلقیلاللهوإنأصدقالھدىھدىمحمدوإنشرالأمورمحدثاتھا،ألاوإنكلمحدثةبدعةوكل

بدعةضلالةوكلضلالةفىالنار

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk

adalah petunjuk Muhammad صلىاللهعلیھوسلم dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah

perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap

perkara yang dibuat-buat (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah

kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya dineraka). [Dikeluarkan oleh Ibnul Wudhah

dalam al Bida’, hal. 31 dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100 (1/84)




6. Abdullah bin Mas’ud رضياللهعنھ berkata:

إتبعوولاتبتدعوافقدكفیتموكلبدعةضلالة

“Ber-ittiba’lah kamu kepada Rosululloh dan janganlah ber-ibtida’ (mengada-ada tanpa dalil),

karena sesungguhnya agama ini telah dijadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah

kesesatan” [Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan Al

Laalikaa’iy, no. 104 (1/86)




7. Abdullah bin ‘Umar رضياللهعنھما berkata:

كلبدعةضلالةوإنرأھاالناسحسنة

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya hasanah (baik)” [Al

Ibaanah, no. 205 (1/339) Al Laalikaa’iy, no. 126 (1/92)





1. Bagian 1
2. Bagian 2
3. Bagian 3
4. Bagian 4
5. Bagian 5
6. Bagian 6
7. Bagian 7
8. Bagian 8
9. Bagian 9
10. Bagian 10
11. Bagian 11
12. Bagian 12
13. Bagian 13
14. Bagian 14
15. Bagian 15
16. Bagian 16
17. Bagian 17
18. Bagian 18
19. Bagian 19
20. Bagian 20
21. Bagian 21
22. Bagian 22
23. Bagian 23
24. Bagian 24
25. Bagian 25
Berikut adalah beberapa amalan bid’ah (tidak ada tuntunan) yang ada di bulan Muharram yang masih laris manis di tengah-tengah kaum muslimin di tanah air.

Pertama: Keyakinan bahwa bulan Muharram bulan keramat

Keyakinan semacam ini masih bercokol pada sebagian masyarakat. Atas dasar keyakinan ala jahiliyyah inilah banyak di kalangan masyarakat yang enggan menikahkan putrinya pada bulan ini karena alasan akan membawa sial dan kegagalan dalam berumah tangga[1]!!. Ketahuilah saudaraku, hal ini adalah keyakinan jahiliyyah yang telah dibatalkan oleh Islam. Kesialan tidak ada sangkut pautnya dengan bulan, baik Muharram, Shafar atau bulan-bulan lainnya.

Kedua: Doa awal dan akhir tahun[2]

Syaikh Bakr Bin Abdillah Abu Zaid berkata: “Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa’ atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa do’a, dzikir atau tukar menukar ucapan selamat, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!!”.[3]

Ketiga: Peringatan tahun baru hijriyyah

Tidak ragu lagi perkara ini termasuk bid’ah. Tidak ada keterangan dalam as-Sunnah anjuran mengadakan peringatan tahun baru hijriyyah. Perkara ini termasuk bid’ah yang jelek.[4]

Keempat: Puasa awal tahun baru hijriyyah[5]

Perkara ini termasuk bid’ah yang mungkar. Demikian pula puasa akhir tahun, termasuk bid’ah. Hanya dibuat-buat yang tidak berpijak pada dalil sama sekali!. Barangkali mereka berdalil dengan sebuah hadits yang berbunyi;
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ, وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ, فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ, جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً
Barangsiapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharram, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Allah manghapuskan dosanya selama lima puluh tahun!!”. Hadits ini adalah hadits yang palsu menurut timbangan para ahli hadits.[6]

Kelima: Menghidupkan malam pertama bulan Muharram[7]

Syaikh Abu Syamah berkata: “Tidak ada keutamaan sama sekali pada malam pertama bulan Muharram. Aku sudah meneliti atsar-atsar yang shahih maupun yang lemah dalam masalah ini. Bahkan dalam hadits-hadits yang palsu juga tidak disebutkan!!, aku khawatir -aku berlindung kepada Allah- bahwa perkara ini hanya muncul dari seorang pendusta yang membuat-buat hadits!!.[8]

Keenam: Menghidupkan malam hari ‘Asyuro

Sangat banyak sekali kemungkaran dan bid’ah-bid’ah yang dibuat pada hari ‘Asyuro[9]. Kita mulai dari malam harinya. Banyak manusia yang menghidupkan malam hari ‘Asyuro, baik dengan shalat, do’a dan dzikir atau sekedar berkumpul-kumpul. Perkara ini jelas tidak ada tuntunan yang menganjurkannya.
Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Termasuk bentuk bid’ah dzikir dan doa adalah menghidupkan malam hari ‘Asyuro dengan dzikir dan ibadah. Mengkhususkan do’a pada malam hari ini dengan nama do’a hari Asyuro, yang konon katanya barangsiapa yang membaca doa ini tidak akan mati tahun tersebut. Atau membaca surat al-Qur’an yang disebutkan nama Musa pada shalat subuh hari ‘Asyuro[10]. Semua ini adalah perkara yang tidak dikehendaki oleh Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin!!”.[11]

Ketujuh: Shalat ‘Asyuro

Shalat ‘Asyuro adalah shalat yang dikerjakan antara waktu zhuhur dan ashar, empat rakaat, setiap rakaat membaca al-Fatihah sekali, kemudian membaca ayat kursi sepuluh kali, Qul HuwAllahu Ahad sepuluh kali, al-Falaq dan an-Nas lima kali. Apabila selesai salam, istighfar tujuh puluh kali. Orang-orang yang menganjurkan shalat ini dasarnya hanyalah sebuah hadits palsu!![12]
As-Syuqoiry berkata: “Hadits shalat ‘Asyuro adalah hadits palsu. Para perowinya majhul, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuti dalam al-Aala’I al-Mashnu’ah. Tidak boleh meriwayatkan hadits ini, lebih-lebih sampai mengamalkannya!!”.[13]

Kedelapan: Do’a hari ‘Asyuro

Diantara contoh do’a ‘Asyuro adalah; “Barangsiapa yang mengucapkan HasbiyAllah wa Ni’mal Wakil an-Nashir sebanyak tujuh puluh kali pada hari ‘Asyuro maka Allah akan menjaganya dari kejelekan pada hari itu”.
Doa ini tidak ada asalnya dari Nabi, para sahabat maupun para tabi’in. Tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah apalagi hadits yang shahih. Do’a ini hanya berasal dari ucapan sebagian manusia!!. Bahkan sebagian syaikh sufi ada yang berlebihan bahwa barangsiapa yang membaca doa ini pada hari ‘Asyuro dia tidak akan mati pada tahun tersebut!!.[14]Ucapan ini jelas batil dan mungkar, karena Allah telah berfirman:
إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui. (QS.Nuh: 4)

Kesembilan: Memperingati hari kematian Husein[15]

Pada bulan Muharram, kelompok Syi’ah setiap tahunnya mengadakan upacara kesedihan dan ratapan dengan berdemontrasi ke jalan-jalan dan lapangan, memakai pakaian serba hitam untuk mengenang gugurnya Husain. Mereka juga memukuli pipi mereka sendiri, dada dan punggung mereka, menyobek saku, menangis berteriak histeris dengan menyebut: Ya Husain. Ya Husain!!!”
Lebih-lebih pada tanggal 10 Muharram, mereka lakukan lebih dari itu, mereka memukuli diri sendiri dengan cemeti dan pedang sehingga berlumuran darah!!! Anehnya, mereka menganggap semua itu merupakan amalan ibadah dan syi’ar Islam!! Hanya kepada Allah kita mengadu semua ini[16].
Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab: “Adapun menjadikan hari asyuro sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rofidhah karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalama kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik. Allah dan rasulNya saja tidak pernah memerintahkan agar hari mushibah dan kematian para Nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka?!”.[17]
Husein bin Ali bin Abi Thalib adalah cucu Rasulullah dari perkawinan Ali bin Abi Thalib dengan putrinya Fatimah binti Rasulullah. Husein sangat dicintai oleh Rasulullah. Beliau bersabda:
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنَ اْلأَسْبَاطِ
Husein adalah bagianku juga dan Aku adalah bagian Husein. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Husein. Husein termasuk cucu keturunanku.[18]
Husein terbunuh pada peristiwa yang sangat tragis, yaitu pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H, di sebuah tempat bernama Karbala, karenanya peristiwa ini kemudian lebih dikenal dengan peristiwa Karbala.[19]
Namun, apapun musibah yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rasulullah bukan alasan untuk bertindak melanggar aturan syariat dengan memperingati hari kematian Husein!!. Sebab, peristiwa terbunuhnya orang yang dicintai Rasulullah sebelum Husein juga pernah terjadi seperti terbunuhnya Hamzah bin Abdil Muthollib, dan hal itu tidak menjadikan Rasulullah dan para sahabatnya mengenang atau memperingati hari peristiwa tersebut, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syi’ah untuk mengenang terbunuhnya Husein!!.[20]

Kesepuluh: Peringatan hari suka cita

Yang dimaksud hari suka cita adalah hari menampakkan kegembiraan, menghidangkan makanan lebih dari biasanya dan memakai pakaian bagus. Mereka yang membuat acara ini, ingin menyaingi dan mengganti hari kesedihan atas peristiwa terbunuhnya Husein dengan kegembiraan, kontra dengan apa yang dilakukan orang-orang Syiah. Tentunya, acara semacam ini tidak dibenarkan, karena bid’ah tidak boleh dilawan dengan bid’ah yang baru!! Dan tidak ada satu dalilpun yang membolehkan acara semacam ini.[21]

Kesebelas: Berbagai ritual dan adat istiadat di tanah Air

Di tanah air, bila tiba hari ‘Asyuro kita akan melihat berbagai adat dan ritual yang beraneka ragam dalam rangka menyambut hari istimewa ini. Apabila kita lihat secara kacamata syar’I, adat dan ritual ini tidak lepas dari kesyirikan! Seperti meminta berkah dari benda-benda yang dianggap sakti dan keramat, bahkan yang lebih mengenaskan sampai kotoran sapi-pun tidak luput untuk dijadikan alat pencari berkah!!. [22]
Wallahu waliyyut taufiq.
[1] Syarh Masail al-Jahiliyyah, DR.Sholih al-Fauzan hal.302
[2] Ishlahul Masajid, al-Qoshimi hal.129, as-Sunan wal Mubtada’at, Muhammad Ahmad Abdus Salam hal.155
[3] Tashih ad-Duu’a, Bakr Abu Zaid hal.107
[4] Bida’ wa Akhtho’ hal.218. Lihat secara luas masalah ini dalam risalah Al- Ihtifal bi Ra’si Sanah wa Musyabahati Ashabil Jahim oleh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari.
[5] as-Sunan wal Mubtada’at hal.191, Tashihud Du’a hal.107
[6] al-A’lai al-Mashnu’ah, as-Suyuti 2/108, Tanziihus Syari’ah, Ibnu Arroq 2/148, al-Fawaid al-Majmu’ah, as-Syaukani no.280. Kritik Hadits-Hadits Dho’if Populer, Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi hal.114
[7] Tashihud Du’a hal.107, Bida’ wa Akhtho hal.221
[8] al-Ba’its Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal.239
[9] Iqthido as-Sirath al-Mustaqim 2/129-134, Majmu’ Fatawa 25/307-314 keduanya oleh Ibnu Taimiyyah, al-Ibda’ Fi Madhoril Ibtida’ Ali Mahfuzh hal.56, 269, as-Sunan wal Mubtada’athal.154-158, 191.
[10] Bida’ al-Qurro Bakr Abu Zaid hal.9
[11] Tashihud Du’a hal.109
[12] al-Fawaid al-Majmu’ah no.60 al-Aala’I al-Masnu’ah 2/92.
[13] as-Sunan wal Mubtada’at hal.154
[14] Du’a Khotmil Qur’an, Ahmad Muhammad al-Barrok, buku ini sarat dengan khurafat dan kedustaan!!. (Bida’ wa Akhtho hal.230).
[15] Iqthidho as-Siroth al-Mustaqiem 2/131-132
[16] Lihat Min Aqoid Syi’ah/Membongkar Kesesatan Aqidah Syi’ah hlm. 57-58, Syaikh Abdullah bin Muhammad
[17] Lathoiful Ma’arif   hlm. 113
[18] HR.Tirmidzi: 3775, Ibnu Majah: 144. Ibnu Hibban: 2240, Hakim 3/177, Ahmad: 4/172, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shahihah: 1227.
[19] Lihat kisah lengkapnya dalam al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir 8/172-191.
[20] Syahr al-Muharram wa Yaum ‘Asyuro, Abdullah Haidir hal.29
[21] Majmu’ Fatawa 25/309-310, Iqtidho as-Siroth al-Mustaqiem 2/133, Tamamul Minnah, al-Albani hal.412
[22] Diantara adat ritual yang sering dilakukan di daratan Jawa adalah yang dikenal dengan istilah Kirab 1 Syuro. Acara ini sarat dengan kesyirikan, mulai dari keyakinan mereka terhadap benda pusaka keraton, keyakinan kerbau yang punya kekuatan ghaib, tirakatan dengan doa dan dzikir pada malam harinya dan kemungkaran-kemungkaran lainnya yang sangat jelas!!. WAllahul Musta’an.
Penulis: Ustadz Syahrul Fatwa bin Luqman